Mangupura, baliwakenews.com
Perubahan besar tengah terjadi dalam cara warga Kuta Selatan mengelola sampah. Bukan lagi sekadar urusan buang ke tempat akhir, masyarakat kini didorong, bahkan dipaksa untuk menyelesaikan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
Transformasi ini menjadi fokus utama dalam evaluasi percepatan pengelolaan sampah berbasis sumber (PSBS) yang terus digencarkan, seiring kebijakan pembatasan penerimaan sampah di TPA Suwung yang kini hanya menerima residu.
Evaluasi pelaksanaan PSBS, kurve, serta program Jumat Bersih Sehat Lingkungan Desa/Kelurahan (Jumat Bersepeda) digelar di Kantor Camat Kuta Selatan, Kamis (9/4/2026), dengan melibatkan lintas sektor hingga tingkat desa dan kelurahan.
Camat Kuta Selatan, I Ketut Gede Arta, mengatakan evaluasi dilakukan rutin untuk memastikan sistem baru ini berjalan efektif sejak diberlakukan sekitar sepekan terakhir.
“Evaluasi ini memang kita jadwalkan rutin. Sekarang kita lihat sudah berjalan sekitar seminggu sejak pembatasan TPA Suwung,” ujarnya.
Ia menegaskan, pembatasan tersebut mengubah total alur distribusi sampah. Kini hanya sampah residu dan anorganik yang dapat masuk ke TPA, sehingga sampah organik wajib ditangani langsung di tingkat sumber.
Dalam forum evaluasi, para perbekel dan lurah memaparkan kondisi di wilayah masing-masing, termasuk langkah yang sudah dilakukan, kendala di lapangan, hingga inovasi yang bisa ditiru wilayah lain.
“Banyak praktik bagus yang muncul, ini jadi bahan pembelajaran bersama,” kata Gede Arta.
Di tengah perubahan ini, pendataan warga menjadi fondasi utama. Hingga saat ini, lebih dari 19.000 kepala keluarga (KK) telah masuk dalam data implementasi PSBS, dan jumlahnya terus bertambah.
“Data ini akan terus bertambah. Target kita semua masyarakat terdata dan teredukasi,” jelasnya.
Meski demikian, tantangan masih terlihat, terutama pada warga yang belum tersentuh sosialisasi. Untuk itu, pendekatan edukasi terus diperluas, termasuk menyasar sektor usaha dan akomodasi pariwisata.
“Setiap Jumat kami turun langsung, tidak hanya korve, tapi juga edukasi, pembinaan, dan pengawasan. Besok kami fokus ke tempat usaha seperti hotel dan akomodasi pariwisata,” tegasnya.
Sejumlah desa mulai menunjukkan inovasi. Di Tanjung Benoa, pedagang dan warga didorong membawa pulang sampah dari pasar agar tidak menumpuk. Di Kutuh, penerapan sanksi berbasis perdes dan pararem dinilai efektif meningkatkan disiplin.
Penguatan infrastruktur juga berjalan. Di Desa Adat Bualu, pembangunan teba modern telah mendekati 80 unit. Sementara di Pecatu dan Ungasan, pemilahan sampah mulai diterapkan.
Namun demikian, kunci utama tetap pada perubahan perilaku di rumah tangga, khususnya dalam mengaktifkan komposter.
“Jangan sampai hanya pindah sampah, dari rumah ke tempat lain tanpa proses. Yang kita harapkan, sampah organik itu diolah menjadi kompos,” tegasnya.
Dengan komposisi sampah organik mencapai 60–70 persen, pengolahan dari rumah diyakini mampu menekan volume sampah ke TPA secara signifikan.
“Kalau komposter aktif, nanti pertanyaannya bukan lagi sampah dibawa ke mana, tapi komposnya dimanfaatkan untuk apa. Itu yang kita harapkan,” tambahnya.
Untuk memastikan perubahan ini berjalan, kegiatan kurve rutin dilaksanakan setiap Jumat pukul 07.00–09.00 WITA di seluruh desa dan kelurahan. Kegiatan ini tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga memastikan pemilahan dan pengolahan sampah benar-benar dilakukan.
“Tiga hal yang kita pastikan yakni pemilahan terjadi, komposter aktif, dan edukasi berjalan. Harapannya, membuang dan memilah sampah menjadi budaya masyarakat,” pungkasnya. BWN-04

































