Denpasar, baliwakenews.com
Warmadewa Research Centre (WaRc) Universitas Warmadewa, menggelar Sharing Session “Bedah Buku Ekologisme Batur: Soal Teks dan Alam Ekologis” secara daring pada Kamis 20 Mei 2021. Buku yang dibedah merupakan karya IK Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran Batur), terbitan Mahima Institute Indonesia (2020).
Hadir dua orang akademisi dari dua universitas besar di Bali sebagai pembedah yaitu Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Pendidikan Ganesha dan Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum., dari Universitas Udayana.
Bedah buku yang dimoderatori Peneliti WaRC, I Ngurah Suryawan, dengan pendekatan Ekofeminisme, Sonia Piscayanti membaca “Ekologisme Batur” sebagai upaya menyelamatkan Batur yang merupakan sumber kehidupan pengayom Bali.
“Ekologisme Batur adalah ekofeminisme dari segi fisik, ekofeminisme dari segi bahasa, dan ekofeminisme dari segi budaya,” tuturnya.
Lebih lanjut dipaparkan, ekofeminisme dari segi fisik adalah upaya menjaga alam fisik itu sendiri, dalam hal ini, adalah alam Batur. Buku ini banyak menjelaskan prihal lingkungan fisik di Kaldera Batur. Sementara, ekofeminisme dari segi bahasa, buku ini berupaya menjaga teks dan konteks yang ada di daerah itu, sedangkan ekofemisme budaya merupakan upaya yang dilakukan dalam menjaga alam pikir, bahasa, dan prilaku.
Sementara ekologisme banyak merespons teks-teks lama, yang kemudian turut menjaga eksistensi teks tersebut. “Ekologisme Batur merupakan upaya dari penulis untuk menjaga peta bahasa. Ada banyak bahasa yang bagi orang awam sangat asing, dan jika tak memahami konteksnya, ia tidak akan mengerti,” tutur Sonia.
Ia melanjutkan, dalam buku setebal 136 halaman itu juga ada langkah menjaga narasi yang turut menjaga dan memelihara kisah-kisah di kawasan Batur.
Akademisi Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, mengutip pernyataan penulis mengatakan kehadiran buku tersebut merupakan persembahan aksara dari seorang Penyarikan Sakala (juru tulis adat, red) kepada dewata bergelar Ida Bhatara Gede Penyarikan di alam niskala yang telah mempercayakan penulis menjadi juru surat sepanjang hayat.
Menurut Guna, buku tersebut didasari oleh kesenjangan pengetahuan leluhur yang simbolis dalam wujud mitos, artefak, ritus, hingga situs, yang cenderung tidak mampu dipahami komprehensif oleh pewarisnya. “Ritus dan artefak dari waktu ke waktu semakin hilang otensitasnya karena kenyamanan dan penyamaan. Dari semua itu, yang paling mengerikan adalah ritus. Sudah jadi rahasia dan kekhawatiran umum, bahwa upacara cenderung hura-hura. Upacara yang kaya wujud ternyata miskin arti,” katanya mengutip pernyataan penulis sebagai bentuk kegundahan atas fenomena yang terjadi saat ini.
Akademisi yang juga menjadi Kurator Bulan Bahasa Bali 2021 ini menyatakan bahwa buku ini disusun dengan tiga cara, yakni sastratah (berdasarkan teks sastra), gurutah (berdasar uraian guru), dan swatah (berdasar pengalaman pribadi).
“Teks-teks sastra yang menjadi rujukan utama penulisannya adalah Raja Purana Pura Ulun Danu Batur, Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, Kakawin Usana Bali Mayantaka, dan Babad Kayu Selem,” katanya.
Secara gurutah, penulisnya menulis buku ini dengan menggali pengetahuan para tetua atau guru di desanya. Itu sangat tampak dalam tulisan berjudul “Tanah Leluhur Kami”. Sedangkan, secara swatah penulisab buku ini didasarkan pada pengalaman penulis. “Penulis dalam buku ini tampak memposisikan diri sebagai penghayat sekaligus peneliti,” katanya.
Tulisan-tulisan dalam Ekologisme Batur diklasifikasan dalam tiga bentuk tema besar, yakni tulisan yang bersifat ritualistis, tulisan bersifat etis, dan ada yang bersifat filosofis. “Melalui tulisan-tulisannya penulis tampak berupaya menggali makna-makna baru yang kemudian disesuaikan dengan kondisi saat ini. Buku ini memposisikan dirinya sebagai salah satu rujukan mengenai Batur,” pungkasnya.*BWN-03

































