Tabanan, baliwakenews.com – Malam itu, tujuh pendaki muda harus menahan cemas di tengah gelapnya hutan Gunung Batukaru. Mereka kelelahan setelah menaklukkan puncak pada Senin (1/9) sore, dan hanya bertumpu pada cahaya redup senter telepon genggam untuk mencari jalan pulang.
Perjalanan yang awalnya penuh semangat berubah jadi kepanikan. Jalur terjal dan minim penerangan membuat langkah mereka tersesat. Sinyal telepon menghilang, kontak dengan keluarga terputus. Seorang teman yang menunggu di bawah, I Gede Prada Avatara Asana, akhirnya melapor ke polisi ketika rombongan tak kunjung turun.
Tim gabungan polisi, BPBD, pecalang, hingga warga desa Jatiluwih menyisir jalur pada dini hari. Setelah hampir tiga jam, rombongan berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Satu pendaki, Ni Luh Ayu Aulia Putri, harus digendong turun karena kakinya terkilir.
Kapolsek Penebel AKP Gusti Kade Alit Murdiasa mengingatkan, medan Batukaru tidak boleh diremehkan. “Pendaki harus mempersiapkan fisik dan peralatan memadai, terutama penerangan, agar tidak membahayakan diri sendiri,” ujarnya.
Bagi tujuh pendaki itu, malam gelap di Batukaru mungkin akan jadi pelajaran yang tak terlupakan. BWN-01

































