Tabanan, baliwakenews.com
Potensi pertanian yang begitu besar menjadikan sektor ini sebagai penggerak utama perekonomian di Tabanan. Meski demikian menurut, dosen Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, Ir. Made Sri Yuliartini, M.Si., produktivitas lahan pertanian masih dapat ditingkatkan.
Untuk meningkatkan produktivitas sawah di Tabanan, salah satunya di Subak Koto Bongan, Desa Adat Bongan Puseh, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Bali, Program Kemitraan Masyarakat Universitas Warmadewa ( PKM Unwar), mengajak petani dan kelompok wanita tani (KWT) untuk membudidayakan tanaman “Gonda” dan mengolahnya menjadi berbagai produk pangan.
Sebagai Ketua Tim PKM Unwar, Ir. Made Sri Yuliartini, M.Si., memaparkan dalam tatanan masyarakat tani Bali yang diatur dalam persubakan, musim tanam padi diatur melalui kesepakatan anggotanya. Oleh karena itu budidaya “Gonda” dapat dipakai sebagai usaha tani untuk pemanfaatan waktu sambil menunggu musim tanam padi sawah secara serentak yang ditetapkan berdasarkan hasil kesepakatan anggota subaknya.
“Budidaya “Gonda” tidak merusak iklim mikro sawah bahkan dapat dipakai untuk memanfaatkan kelebihan air dan ketersediaan lahan. Dengan demikian budidaya tanaman “Gonda” sekaligus juga dapat dipakai untuk meningkatkan produktivitas lahan, ” ucapnya.
Selama ini tanaman “Gonda” lebih dikenal sebagai tanaman gulma padi dibandingkan sebagai tanaman sayuran. Hal ini menyebabkan minimnya dilakukan pengembangan atau budidaya tanaman ini.
“Tapi di Desa Adat Bongan Puseh, tanaman “Gonda” dibudidayakan secara intensif pada lahan persawahan untuk menambah pendapatan, ” ungkap Yuliartini didampingi anggota tim Ir. A.A. Ngr. Mayun Wirajaya,MM., dan Ir. Luh Kartini, M.Si.
Meski demikian berdasarkan hasil observasi di lapangan ternyata petani di subak Koto Bongan masih menghadapi sejumlah permasalahan diantaranya kurangnya pemahaman petani dalam teknik budidaya “Gonda” yang baik dan berkelanjutan, kurangnya pengetahuan petani dalam mengolah tanaman “Gonda” terutama pada saat panen yang bersamaan, belum diterapkannya sistem penanaman yang bergilir sehingga tidak ada ketersedian tanaman “Gonda” secara kontinyu dan berkelanjutan.
“Persoalan lain belum diterapkan sistem tumpang sari antara “Gonda” dengan padi, belum dipahami sistem pengelolaan manajemen pemasaran yang baik, oleh karena itu perlu difasilitasi dari aspek teknologi sehingga nantinya dapat meningkatkan pendapatan Subak Mitra, ” tukasnya.
Melalui PKM ini, mitra dapat memahami serta menerapkan teknologi/teknik budidaya yang benar dan tepat, memperluas penanaman dengan menanam secara beraturan dengan tenggang waktu , serta mencoba sistem tumpang sari tandur jajar 2 ; 1 sehingga stabilitas dan diversitas hasil didapat. Selain itu KWT juga dilatih mengolah tanaman “Gonda” menjadi makanan sehat seperti mie dari “Gonda” dan keripik “Gonda”.
“Setelah dilakukan pelatihan kelompok mitra telah mampu mengelola usaha tani tanaman “Gonda” sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggotanya melalui peningkatan kuantitas, kualitas dan diversitas hasil. Serta lakukan pengolahan pasca panen tanaman “Gonda” yang selanjutnya menggetoktularkan pada petani lingkup wilayah setempat, ” pungkas Yuliartini. *BWN-03

































