Denpasar, baliwakenews.com
Pandemi Corona Virus Deasis 2019 ( Covid-19) membuat banyak perusahaan besar gulung tikar, disisi lain banyak usaha kecil dan menengah (UKM) yang tumbuh. Akademisi Universitas Warmadewa, Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, SE, M.Si., Jumat (29/5) di Denpasar mengatakan banyak karyawan yang dirumahkan atau kehilangan pekerjaan beralih ke usaha mikro khususnya kuliner.
“Banyak peluang bisnis yang bisa ditangkap ditengah pandemi ini. Terutama yang bersentuhan dengan produk kesehatan, produk IT, kebutuhan pokok dan kuliner, sehingga banyak orang yang mulai usaha di bidang kuliner,” papar Ngurah Suyatna.
Hal tersebut tentulah berimplikasi pada semakin ketatnya persaingan. Tapi bila jeli memilih produk yang ditawarkan, ia optimis usaha yang dirintis ditengah merosotnya ekonomi dunia akan berjalan lancar.
“Ada banyak variasi makanan yang bisa dijual, yang penting kemasan dan penyajian menarik. Jangan latah dan ikut – ikutan, baru satu jualan laklak yang lain semua ikut jualan itu,” tandas Ketua Program studi (prodi) Magister Manajemen (MM) Program Pascasarjana Universitas Warmadewa (PPS Unwar) tersebut.
Sementara bagi UKM yang bisnisnya telah berjalan sebelum terjadinya pandemi, dikatakan harus melakukan model ‘survival’. “Lakukan model bertahan, jangan ekspansi dulu karena kita belum tahu sampai kapan kondisi ini akan terjadi,” ucapnya.
‘Cash flow’ harus dijaga dalam jangka panjang, karena tidak ada kepastian kapan Corona akan berakhir. Untuk itu, harus dilakukan efisien dalam pengeluaran. Pengeluaran yang tidak perlu (tidak darurat) harus dihentikan. Rencana ekspansi usaha juga harus ditunda, selain melakukan penyesuaian terhadap gaji karyawan.
Langkah selanjutnya yang dapat dilakukan untuk dapat bertahan ditengah pandemi Corona ini, dipaparkan pelaku UKM harus menjaga empati dan simpati kepada konsumen, mitra dan karyawan.
“Ada baiknya saling membantu mempromosikan produk- produk dari mitra. Jadi harus ada saling empati, saling membantu antara mitra itu harus dijaga,” tandasnya.
Merujuk hasil riset tentang keputusan konsumen, ia menjelaskan 20 persen ditentukan oleh logika dan 80 persen berdasarkan emosi konsumen. Hal inilah yang harus dimanfaatkan oleh pelaku UKM dengan mengedepankan aspek emosional konsumen.
Memanfaatkan emosi konsumen dalam konteks ini, artinya pelaku UKM mesti mengurangi nafsu meraup untung besar. Justru ia menyarankan agar sebagian keuntungan didonasikan untuk mengurangi beban sesama manusia akibat Covid-19.
“Sekarang bukan memoentum tepat meraup untung banyak. Malah ujian bagi pengusaha agar lebih empati dan peduli terhadap sesama,” katanya.
Ngurah Suyatna mengajak seluruh pelaku usaha agar mampu bersaing secara sehat. “Yang penting itu new marketing strategi. Contohnya ada tukang cukur yang mendatangi konsumen kerumahnya. Usahanya tetap jalan, karena menjaga komunikasi dengan baik ke pelanggan. Dengan terbatasnya aktivitas manusia, strategi baru yang inovatif sangat mutlak diperlukan yang mengacu pada ‘new normal’,” pungkasnya.*BW-09
































