Denpasar, baliwakenews.com
Menyonsong Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2024, informasi hoax di berbagai platform media sosial semakin marak. Hal tersebut disadari berpotensi besar mengganggu stabilitas politik lokal maupun nasional
Meminimalisir hal yang tidak diinginkan Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, berdialog dengan KPUD Bali sebagai salah satu lembaga penyelenggara Pemilu 2024. Dalam dialog saat audiensi dengan Ketua KPUD Bali yang berlangsung di Kantor KPUD Bali, Kamis 9 November 2023, tersebut SMSI Bali lontarkan gagasan untuk turut ambil bagian dalam setiap sosialisasi Pemilu dengan materi Literasi Media dan Literasi Digital.
‘Sumber daya manusia (SDM) di SMSI Bali cukup mumpuni dan berpengalaman dalam memberikan literasi media maupun literasi digital, karena hampir semua pemilik Media yang tergabung di SMSI Bali adalah para wartawan senior yang memiliki jam terbang tinggi dalam mengelola Media online,’ kata Ketua SMSI Bali, Emanuel Dewata Oja.
Pria yang akrab disapa Edo ini mengungkapkan, serangan siber dengan berita hoax sebakin marak, meskipun belum mulai kampanye Pilpres. SMSI menilai bahwa bijak bermedia sosial itu penting, sehingga perlu sosialisasi ke pemilih pemula tingkat SMA dan perguruan tinggi.
“Kami siap bantu KPU Bali untuk literasi digital. Kami serahkan keputusan kerjasama ke KPU. Tapi SDM yang dimiliki SMSI bisa membantu dan berkolaborasi untuk sosialisasi literasi digital. Kalau dari sisi pemberitaan, kami saat ini beranggotakan tiga puluhan media siber. Sehingga secara masif perlu sosialisasi juga melalui berita yang didukung seluruh anggota SMSI Bali,’ ujar Edo.
Ketua KPUD Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan mengatakan juknis tentang kampamye PKPU Nomor 15 tahun 2023, mengisyaratkan bisa kampanye gunakan videotron.
“Ada isu baru yang harus digarap rekan-rekan SMSI Bali. Karena hampir 45 persen pemilih milenial yang sudah akrab dengan digital. Kenapa mesti pasang Baliho lagi yang kemudian bisa timbulkan masalah. Kalau ini kita dorong bareng-bareng, saya yakin great electiion bisa kita capai. Saya sudah ngobrol dengan Ketua KPU RI untuk stand kampanye di mall selama 8 jam sehari, dari semua segmen dan isu kampanye masuk. Daripada euforia pasang Baliho yang membuat ribut-ribut,” tukasnya.
Lebih lanjut dikatakan banyak pemilih mengatakan bagaimana bisa mengetahui calon ini baik, kalau cuma pasang baliho. Kenapa tidak dibuatkan video pendek.
Lidartawan berharap metode kampanye digital dengan videotron bisa dilakukan peserta pemilu. Baliho masih berefek 15 tahun yang lalu. Beberapa perbankan sudah menyatakan siap support secara teknis.
Teknis nanti akan disesuaikan jam sosialisasi masing-masing parpol. Baik kaum ibu-ibu, mahasiswa perwakilan kampus.
“Bali harus menjadi green electiion, jadi kita minta peserta pemilu tanam pohon juga, karena kertas suara dari pohon. Apalagi Baliho itu kan menimbulkan sampah plastik, belum lagi ributnya di masyarakat kalau muncul masalah,” pungkasnya. BWN-03





























