Gunungkidul, baliwakenews.com
Siang hari di Jalan Ngobaran Ngerenehan, Gebang, Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul, udara pantai terasa lembab dan asin. Puluhan warung berdiri rapi di sepanjang jalan. Pedagang-pedagang lokal menawarkan pakaian adat Hindu, selendang, kamen, udeng kepada para pemedek yang datang dari Bali dan berbagai kota lain.
Mereka datang bukan sekadar melancong, tapi bersembahyang. Tujuan mereka adalah ke Pura Segara Wukir, sebuah pura kecil namun megah yang berdiri gagah di atas tebing pesisir selatan Jawa.
Namun di balik kesakralan pura yang menghadap laut biru itu, hanya satu orang yang mengemban tanggung jawab untuk menjaganya. Namanya Jro Mangku Karman. Dia bukan hanya pemangku pura, tapi juga satu-satunya umat Hindu di desa itu, selain istri dan anak-anaknya.
“Saya sendiri yang mengempon pura ini sejak dibangun tahun 2005,” ujarnya pelan, dengan logat halus khas Jogja. Wajahnya kalem, bersih, dan teduh. Tangannya yang kurus cekatan membetulkan blangkon di kepala, Sabtu (12/7).
Nama “Segara Wukir” tak dipilih sembarangan. Dalam Bahasa Jawa dan Bali, segara berarti laut dan wukir berarti gunung. Pura ini memang berada di titik yang mempertemukan keduanya. Yakni laut yang luas di depan, bukit berderet di belakang. Sebelum ada pura, lokasi ini sudah rutin digunakan umat Hindu sebagai tempat melasti, upacara pembersihan diri dan sarana suci menjelang Hari Raya Nyepi.
Pura Segara Wukir didirikan untuk mewadahi spiritualitas umat Hindu yang datang dari luar daerah. Meski tidak berada di Bali, nuansa arsitekturnya memadukan gaya Bali dan Jawa. Atap-atap pelinggih berbentuk meru, tetapi bangunan lain menyatu dengan batu karst dan ukiran khas Jawa Tengah.
Struktur pura mengikuti pakem, nista mandala (halaman luar), madya mandala (zona tengah), dan utama mandala (inti tempat ibadah). Di utama mandala, berdiri tujuh palinggih, tempat pemujaan berbagai tokoh spiritual seperti Padmasana, Hyang Baruna, hingga Raja Brawijaya V dan Nyi Roro Kidul, satu bentuk akulturasi kepercayaan yang kental di pesisir selatan Jawa.
Pot-pot berisi bunga warna-warni disusun rapi di areal pura. Ember-ember plastik bekas jadi wadah tanaman, menandakan perawatan dilakukan secara mandiri. Tak ada petugas. Tak ada rombongan pemangku. Semua ditangani oleh Karman seorang.
Meski tinggal di tengah masyarakat Muslim yang homogen, Karman tak pernah merasa terasing. “Warga menerima saya dengan baik. Kalau ada upacara, mereka bantu. Bahkan ikut bersih-bersih pura,” katanya tersenyum.
Tiap tahun, saat Hari Raya Galungan, Kuningan, atau Nyepi, umat Hindu dari luar Gunungkidul berdatangan. Mereka sembahyang, membawa canang, bunga, dan dupa. Tapi saat ritual usai dan keramaian bubar, Karman kembali sendiri.
Dia membersihkan pelinggih, menyapu madya mandala, mengganti bunga, dan menjaga ketenangan pura seorang diri. “Sudah jalan hidup saya. Ini bukan hanya tempat ibadah, tapi pengabdian,” katanya lirih.
Bagi warga sekitar, keberadaan pura bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga berkah ekonomi. Menurut Tuti, pedagang makanan di dekat pura, sejak berdirinya Pura Segara Wukir, kunjungan wisata meningkat. “Dulu orang ke Ngobaran cuma lihat pantai. Sekarang banyak juga yang datang untuk lihat pura, berfoto, beli oleh-oleh, makan di warung. Ekonomi hidup,” jelasnya.
Warga yang dulunya petani kini bisa berdagang, menyewakan lahan parkir, hingga mengelola tiket masuk. Tak hanya pendapatan desa bertambah, tapi juga tumbuh toleransi dalam keragaman.
“Pura ini bukan cuma punya umat Hindu, tapi jadi bagian dari desa kami juga,” kata Tuti.
Hampir dua dekade berdiri, Pura Segara Wukir tak pernah sepi. Jika bukan umat yang sembahyang, maka wisatawan yang datang berfoto dan menyimak tenangnya lautan. BWN-01

































