Jembrana, Baliwakenews.com
Limbah peternakan kambing yang selama ini kerap dianggap sebagai masalah lingkungan ternyata menyimpan potensi ekonomi yang besar. Melihat peluang tersebut, Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar turun langsung mendampingi peternak di Kabupaten Jembrana untuk mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik berkualitas tinggi yang bernilai jual.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Peningkatan Kualitas Pupuk Organik Berbahan Limbah Peternakan Kambing pada Kelompok Tani Ternak Juragan Kampung”, tim akademisi Unwar memberikan pelatihan dan pendampingan kepada peternak di Desa Batuagung, Kecamatan Jembrana, Senin (1/6/2026).
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Ir. Ida Bagus Komang Mahardika, M.Si., bersama Prof. Dr. Ir. Yohanes Parlindungan Situmeang, M.Si., serta dua mahasiswa Program Studi Magister Sains Pertanian Universitas Warmadewa.
Ketua Tim PkM, Dr. Ida Bagus Komang Mahardika, menegaskan bahwa limbah peternakan kambing dapat menjadi sumber pupuk organik berkualitas jika dikelola dengan teknologi yang tepat.
“Selama ini limbah peternakan sering dianggap sebagai masalah lingkungan. Padahal jika diolah melalui proses pengomposan yang benar dan diperkaya dengan mikroorganisme pendukung, limbah tersebut bisa menjadi pupuk organik yang mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai teknik peningkatan mutu pupuk organik, mulai dari pengaturan komposisi bahan baku, rasio karbon dan nitrogen (C/N), penggunaan dekomposer, hingga teknik pematangan kompos agar menghasilkan pupuk sesuai standar mutu.
Menurut Mahardika, peningkatan kualitas pupuk organik tidak hanya berdampak pada produktivitas pertanian, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi kelompok peternak.
“Harapannya, kelompok tani ternak tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pupuk secara mandiri, tetapi juga bisa mengembangkan pupuk organik sebagai produk komersial yang memberikan tambahan pendapatan,” katanya.
Sementara itu, Prof. Yohanes Parlindungan Situmeang menekankan pentingnya penggunaan pupuk organik untuk menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang. Menurutnya, pupuk organik mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga pertanian menjadi lebih produktif dan tangguh menghadapi perubahan iklim.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui penyuluhan, diskusi, demonstrasi pembuatan pupuk organik, hingga pendampingan langsung di lapangan. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait teknik pengolahan limbah dan peluang pemasaran produk pupuk organik.
Ketua Kelompok Tani Ternak Juragan Kampung, I Kade Wiastika mengaku pelatihan tersebut memberikan solusi nyata bagi persoalan yang selama ini dihadapi peternak.
“Selama ini limbah ternak sebagian besar hanya ditumpuk. Sekarang kami mendapatkan pengetahuan baru untuk mengolahnya menjadi pupuk organik yang lebih berkualitas dan memiliki nilai ekonomi,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan salah satu anggota kelompok yang mengaku semakin termotivasi untuk mengembangkan usaha pupuk organik berbasis limbah ternak.
“Pelatihan ini membuka wawasan kami bahwa limbah ternak memiliki potensi besar. Kami berharap pendampingan seperti ini terus berlanjut agar kelompok mampu memproduksi pupuk organik secara konsisten dan menjadi sumber usaha tambahan,” katanya.
Melalui program ini, Universitas Warmadewa berharap mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi pertanian berbasis sumber daya lokal. Selain mendukung pertanian ramah lingkungan, program tersebut juga menjadi langkah konkret dalam mengurangi limbah peternakan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak di Jembrana. BWN-03




























