Denpasar, baliwakenews.com
Kabupaten Badung kembali mencuri perhatian dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, dengan menghadirkan sejumlah karya tabuh kreasi dan tari joged bumbung yang memadukan nilai kearifan lokal, hiburan, dan pesan pelestarian budaya dari sekha Gong Gitra Swara, Banjar Anyar ,Kuta.
Salah satu suguhan utama adalah Tabuh Kreasi “Tedung Jagat”, yang memaknai sosok pemimpin sebagai tedung atau peneduh bagi dunia. Komposisi gamelan joged bumbung ini diramu secara detail oleh penata tabuh, I Putu Sukadana, S.Sn., dibantu para pembina, I Putu Gede Aristana dan I Kadek Juniantara, S.Sn.
“Tabuh ini bukan sekadar rangkaian nada, tetapi simbol pengabdian seorang pemimpin yang mampu menjadi payung bagi rakyatnya. Dalam setiap alunan kendang dan jegogan, kami ingin menyampaikan nilai kebijaksanaan, penghormatan pada leluhur, dan keteguhan menjaga tradisi,” ujar I Putu Sukadana seusai pementasan.
Pesan filosofis mendalam juga tercermin dalam kutipan lontar yang menjadi ruh karya: “Wruh sira ring weda, bhakti ring Dewa, tar malupeng Pitra Puja, masih ta sireng Swagotra kabeh,” yang bermakna ajakan untuk selalu berbakti kepada Sang Pencipta, menghormati jasa para leluhur, serta menjaga harmoni dengan sesama.
Tak kalah memikat, Tabuh Joged “Gitaning Samudra” menghadirkan semangat kehidupan para nelayan di pesisir Pantai Kuta. Penari Ni Putu Diah Padma Pratiwi dengan lincah menggambarkan keceriaan nelayan menyiapkan perahu, menjala ikan, hingga konflik jenaka dengan sang istri yang protes karena ditinggal membantu di rumah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kehidupan pesisir tidak hanya penuh kerja keras, tapi juga kehangatan dan humor. Karya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa laut adalah sumber penghidupan yang wajib kita jaga bersama,” ungkap Dr. I Gusti Darma Putra, S.Sn., M.Sn., selaku Konseptor Tabuh Joged “Gitaning Samudra.”
Selain itu, Kabupaten Badung juga menampilkan tiga tabuh joged lain dengan pesona khas masing-masing:
Tabuh Joged “Kembang Rampe”, dibawakan oleh Ni Made Sri Widia Sari, memvisualkan keindahan bunga yang tumbuh mekar.
Tabuh Joged “Kembang Sandat” oleh Ni Luh Sandra Dewi, yang sarat kelembutan simbol wangi Sandat.
Tabuh Joged “Kembang Cepaka” dengan penari Ni Luh Putu Sri Ratna Maheswari, memaknai kesucian dan penghormatan.
Ni Nyoman Andra Kristina, S.Sn., M.Sn., selaku pembina tari, menegaskan pentingnya regenerasi seniman muda dalam setiap karya. “Kami bersyukur anak-anak muda Badung tetap antusias belajar dan tampil. Ini bukti bahwa seni tradisi tetap hidup di hati generasi baru,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung yang hadir mendampingi pementasan menambahkan, “Komitmen kami jelas, seni tradisi bukan hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan agar selalu relevan dengan perkembangan zaman. Ini tugas bersama antara pemerintah, seniman, dan masyarakat,”paparnya. BWN/Kominfo

































