Gianyar, Baliwakenews.com
Langit pagi di kawasan Puri Agung Gianyar akan menjadi saksi sebuah peristiwa sakral penuh makna: pelepasan terakhir sosok yang tidak hanya pernah memimpin, tetapi juga mengabdikan hidupnya bagi adat, budaya, dan spiritualitas Bali.
Ida Rajadewata, yang semasa hidup dikenal sebagai Anak Agung Gde Agung Bharata, berpulang pada Sabtu, 21 Februari 2026 di RSUD Sanjiwani. Kepergiannya meninggalkan jejak panjang pengabdian sebagai raja, birokrat, kepala daerah, hingga akhirnya menjadi seorang sulinggih.
Puncak penghormatan itu akan terwujud dalam Karya Palebon tingkat Utamaning Utama, Sabtu, 7 Maret 2026, sebuah upacara yang tidak hanya megah secara visual, tetapi juga dalam makna spiritualnya.
Dari Raja ke Sulinggih: Jalan Sunyi Ida Rajadewata
Perjalanan hidup Ida Rajadewata bukanlah kisah biasa. Ia lahir dari garis keturunan bangsawan Puri Gianyar, putra dari raja terakhir Gianyar, Ida Anak Agung Gde Oka.
Namun, jalan hidupnya tidak berhenti pada kekuasaan duniawi.
Ia pernah mengabdi sebagai ASN di Jakarta, kemudian kembali ke tanah kelahiran dan menjabat sebagai Bupati Gianyar selama dua periode. Dalam kepemimpinannya, keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian adat menjadi prinsip utama.
Puncak transformasi hidupnya terjadi saat ia menjalani prosesi Dwijati pada 2019, menjadikannya seorang sulinggih dengan nama Ida Bhagawan Blibar. Sejak saat itu, hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk dharma dan pelayanan spiritual.
Nagabanda dan Makna Palebon Utamaning Utama
Palebon yang akan dilaksanakan bukanlah upacara biasa. Tingkatan Utamaning Utama merupakan bentuk penghormatan tertinggi dalam tradisi Puri.
Sarana utama berupa Nagabanda melambangkan pelepasan roh menuju alam suci, sekaligus simbol kosmis perjalanan jiwa. Tidak digunakannya bade tumpang sebelas menjadi penanda bahwa Ida Rajadewata telah melalui proses dwijati sebuah kedudukan spiritual yang berbeda dari kebanyakan.
Prosesi akan dimulai dari Bale Sumanggen, diiringi Tari Gambuh Masatya, sebuah tarian sakral yang memperkuat suasana penghormatan. Layon kemudian dipundut menuju padma, sebelum akhirnya diarak menuju Setra Adat Beng.
Gotong Royong Puri dan Desa Adat
Upacara ini bukan hanya milik keluarga Puri, tetapi juga melibatkan kekuatan kolektif masyarakat adat.
Sebanyak 16 Puri keturunan Ida Bhatara Manggis Kuning turut ambil bagian, bersama desa-desa adat di sekitar Gianyar. Ratusan warga dikerahkan:
Desa Adat Samplangan: 450 orang sebagai penyandang padma
Desa Adat Abianbase: 250 orang mengusung lembu dan tragtag
Desa Adat Bitra: 100 orang menyandang Nagabanda
Keterlibatan ini mencerminkan kuatnya nilai ngayah pengabdian tulus tanpa pamrih yang menjadi jiwa masyarakat Bali.
Perjalanan Terakhir Menuju Keabadian
Setelah prosesi pembakaran di Setra Adat Beng, rangkaian tidak berhenti begitu saja.
Abu suci akan melalui tahapan sakral:
Nuduk Galih, Nguyeg Galih, Ngareka Galih, Nyupit, hingga akhirnya dihanyutkan ke laut di Pantai Masceti sebuah simbol kembalinya unsur Panca Maha Bhuta ke alam semesta.
Rangkaian ditutup dengan prosesi Mapegat di Puri Agung Gianyar, menandai perpisahan terakhir secara niskala.
Palebon Ida Rajadewata bukan hanya tentang kematian. Ia adalah refleksi perjalanan hidup seorang tokoh yang melintasi tiga dunia: kekuasaan, pengabdian publik, dan spiritualitas.
Dalam sosoknya, masyarakat Gianyar melihat keteladanan tentang bagaimana menjaga harmoni antara modernitas dan tradisi, antara dunia sekala dan niskala.
Di tengah gemuruh gamelan dan langkah ribuan pengiring, Palebon ini menjadi pengingat: bahwa warisan terbesar seorang manusia bukanlah jabatan, melainkan nilai yang ditinggalkan. BWN-03

































