Menyelami Sakralitas yang Terjaga Kabut dan Doa di Pura Luhur Pucak Adeng

Iklan Home Page

Tabanan, baliwakenews.com – Di antara rimbun hutan, di puncak sunyi Gunung Adeng yang diliputi kabut dan keheningan, berdiri sebuah pura tua yang tak sekadar tempat persembahyangan, akan tetapi juga tapal batas antara alam niskala dan sekala, antara yang kasat dan tak terlihat.

Pura Luhur Pucak Adeng, terletak di Desa Angseri, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, berdiri di salah satu titik tertinggi Pulau Bali, Puncak Gunung Adeng, 1.826 meter di atas permukaan laut. Di sinilah, menurut tradisi lisan warga, para leluhur pertama kali “nunas petunjuk” atau memohon titah gaib tentang arah hidup dan tatanan desa.

Sebagian warga menyebut pura ini sebagai Kahyangan Jagat, atau tempat suci umum yang diyakini menjadi poros spiritual di wilayah Bali Tengah dan sekitarnya. Tidak banyak catatan tertulis tentang kapan Pura Luhur ini dibangun. Namun dari pelinggih-pelinggihnya yang telah dilapisi lumut, serta bentuknya yang sederhana dan menyatu dengan alam, banyak yang meyakini bahwa tempat ini telah ada sebelum pengaruh Majapahit mengakar kuat di Bali, yakni sekitar abad ke-13 hingga 14.

Berbeda dengan pura-pura besar di kota yang ramai oleh wisatawan, Pura Luhur Pucak Adeng justru tertutup dan senyap. Jalur menuju pura ini bukan jalan beraspal, melainkan jalur pendakian dengan ratusan anak tangga yang menembus hutan lebat. Tak sedikit yang tersesat karena kabut pekat dan medan yang tak memiliki petunjuk arah.

Baca Juga:  Rahasia Alam Semesta Agar Kamu Kaya, Bahagia dan Berkelimpahan

Warga desa percaya, jalur menuju Pucak Adeng tidak boleh dilalui sembarangan. Sejak beberapa kasus orang hilang saat mendaki (terakhir terjadi pada 2023), masyarakat bersama desa adat memperketat akses: hanya peziarah spiritual yang benar-benar “nunas ijin” yang diizinkan naik. Bagi mereka yang tidak tulus niatnya, jalan menuju puncak akan “ditutup” secara gaib.

“Kalau hatimu tidak bersih, kamu akan diputar balik oleh hutan itu sendiri,” ujar seorang pemangku dari Desa Angseri.

Gunung Adeng dan pura di puncaknya dikenal menyimpan banyak cerita spiritual. Dari suara gamelan gaib di malam hari, cahaya berkelebat di antara kabut, hingga penampakan kakek berjubah putih yang konon merupakan wujud penuntun niskala bagi mereka yang tersesat.

Salah satu cerita yang sering terdengar dari pendaki spiritual adalah peristiwa “digiring” oleh sosok tak dikenal saat tersesat di hutan. “Saya sudah putus asa, tak tahu jalan pulang. Tiba-tiba ada kakek memegang tongkat muncul dari kabut dan berkata: ‘Turunlah, kau sudah cukup.’ Saat saya menengok lagi, beliau sudah tak ada,” kisah seorang pemedek dari Badung.

Baca Juga:  Lowongan Manajer Pengelola Pantai Kuta Minim Peminat

Bagi umat Hindu, peristiwa semacam itu bukan hal asing. Mereka menyebutnya sebagai pawisik atau bisikan spiritual dari alam niskala yang memberi arah atau petunjuk. Di Pura Luhur Pucak Adeng, pawisik sering menjadi penentu langkah hidup seseorang.

Piodalan atau upacara hari jadi pura dilakukan setahun sekali, biasanya pada bulan Purnama Desta. Saat itulah pemedek dari berbagai daerah datang dengan sesajen, membawa doa, dan niat suci. Upacara berlangsung dalam keheningan dan syukur, karena mereka percaya bahwa keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana) dimulai dari tempat-tempat tinggi seperti Adeng.

Selain menjadi tempat sembahyang, pura ini juga kerap dijadikan tempat tapa brata atau pertapaan oleh mereka yang mencari ketenangan batin dan jawaban hidup. Tak jarang, tokoh spiritual datang dan menginap di alam terbuka sekitar pura, hanya ditemani kabut dan suara alam.

Meski pura ini tidak dijaga secara fisik setiap hari, warga desa meyakini bahwa penjaga sejati adalah para makhluk niskala. Karena itulah, tempat ini tidak pernah dirusak atau diganggu, bahkan oleh orang luar.

Baca Juga:  Melukat di Beji Pura Batu Meringgit Dipercaya Bisa Sembuhkan Penyakit Sekala dan Niskala

Dalam beberapa tahun terakhir, upaya pelestarian dilakukan oleh desa adat Angseri. Mereka memetakan jalur spiritual, membuat sistem izin khusus bagi pemedek, dan melarang kegiatan pariwisata komersial masuk ke kawasan ini.

“Kami ingin tempat ini tetap seperti dulu, sunyi, sakral, dan hanya untuk yang benar-benar datang dengan hati,” kata salah satu tokoh adat.

Pura Luhur Pucak Adeng bukan hanya tentang keindahan alam atau jalur pendakian ekstrem. Ia adalah ruang perenungan, tempat di mana doa menembus langit, dan kabut bukan sekadar cuaca, tetapi penutup yang menjaga kesucian.

Di tengah modernitas yang terus mendesak, Pura ini berdiri tegak, seperti genta spiritual yang mengingatkan kita bahwa sebelum ada kemegahan pura batu, ada kesunyian hutan dan ketulusan hati yang menjadikan tempat itu suci. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR