Mangupura, baliwakenews.com
Di pagi yang tenang di Pulau Peninsula, ombak masih memecah karang seperti puluhan tahun lalu. Namun di balik ketenangan itu, The Nusa Dua sedang bersiap berubah. Kawasan yang selama lebih dari setengah abad dikenal sebagai wajah pariwisata premium Bali ini tak ingin sekadar menjadi saksi masa lalu, ia memilih menolak tua.
Mulai 2026, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) akan memulai rejuvenasi bertahap kawasan The Nusa Dua. Bukan karena sepi pengunjung, bukan pula karena pamornya meredup. Justru sebaliknya. Angka-angka menunjukkan kawasan ini masih hidup dan diminati. Tingkat okupansi sepanjang 2025 mencapai 76,93 persen, sementara jumlah kunjungan melonjak dari 3,2 juta wisatawan pada 2024 menjadi 3,8 juta di 2025—tumbuh sekitar 18,5 persen.
Namun bagi ITDC, statistik yang positif bukan alasan untuk berpuas diri. Di tengah perubahan selera wisatawan global, destinasi mapan justru menghadapi tantangan paling sunyi: terjebak dalam kejayaan masa lalu.
Plt Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menyebut rejuvenasi ini sebagai langkah strategis agar The Nusa Dua tetap relevan di tengah tantangan global yang terus berubah. “Ini bukan sekadar perbaikan jalan, tetapi peningkatan tampilan kawasan agar lebih nyaman, indah, dan berdampak langsung pada customer experience,” katanya saat Kick Off program rejuvenasi, Rabu (28/1/2025).
Transformasi ini juga mengajak para tenant untuk bergerak bersama. Sejumlah hotel dan pelaku usaha mulai melakukan refurbish, memastikan The Nusa Dua tak tampil sebagai kawasan “kota tua” yang ditinggalkan zaman. Dukungan desa adat melalui penguatan atraksi budaya dan keterlibatan dalam berbagai event menjadi pengingat bahwa pembaruan tak harus menghapus identitas.
Di antara alat berat yang bersiap bekerja dan rencana besar yang mulai dijalankan, The Nusa Dua seperti sedang menulis ulang takdirnya sendiri. Sebuah ikon lama yang memilih beradaptasi karena di dunia pariwisata, bertahan hidup bukan soal usia, melainkan keberanian untuk berubah.
“Capaian ini menjadi dasar bagi kami untuk terus berbenah, memperbarui, dan mematangkan kawasan agar mampu menghadirkan pengalaman terbaik bagi wisatawan,” ujar Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka.
Rejuvenasi akan berlangsung selama tiga tahun, dimulai dari Pulau Peninsula, ruang publik yang selama ini menjadi etalase kawasan. Di sini, sebuah stage event akan dibangun untuk menopang agenda nasional dan internasional. Akses menuju Waterblow, area wedding chapel, hingga jalur pedestrian akan ditata ulang, memberi ruang bagi wisatawan untuk menikmati kawasan dengan cara yang lebih nyaman dan intim.
Perubahan juga menyentuh aspek yang sering luput dari perhatian, jalan. Sepanjang 3,7 kilometer infrastruktur jalan akan diremajakan melalui overlay, dengan rekayasa lalu lintas yang dirancang agar denyut pariwisata tetap berjalan di tengah proses pembangunan. Bagi kawasan yang hidup dari kenyamanan, pembenahan ini bukan sekadar proyek teknis, melainkan soal rasa aman dan pengalaman.
Di sisi lain, The Nusa Dua juga sedang menyesuaikan diri dengan tuntutan pariwisata berkelanjutan. ITDC mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) seluas 5.000 meter persegi dengan sistem yang lebih modern dan terintegrasi. Pencahayaan kawasan, jalur pedestrian, dan jalan setapak diperbarui bukan hanya untuk estetika, tetapi juga untuk memastikan kawasan tetap ramah dan aman saat malam tiba.
Wajah baru lainnya akan lahir di Pulau Nusa Dharma. Area ini diproyeksikan menjadi “wellness island”, ruang bagi wisata berbasis kesehatan dan ketenangan. Yoga, meditasi, dan aktivitas wellness akan menjadi denyut baru kawasan sebuah respons terhadap tren wisata yang kini mencari makna, bukan sekadar kemewahan. BWN-04































