Denpasar, Baliwakenews.com
Duta Kabupaten Badung sukses menyita perhatian penonton pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Melalui garapan bertajuk “Angkus Prana”, Sanggar Tari dan Tabuh Prabha Semara Jaya asal Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi, menghadirkan pertunjukan penuh energi yang mengangkat nilai pengabdian, bakti kepada orang tua, dan spiritualitas dalam kisah Mahabharata.
Tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Sabtu (27/6/2026), pementasan tersebut membawa penonton mengikuti perjalanan Bima dalam menyelamatkan roh kedua orang tuanya, Pandu dan Dewi Madri, yang masih terkurung di Kawah Candradimuka.
Perjalanan itu tidak mudah. Bima harus menghadapi berbagai rintangan dan pertempuran melawan para cikrabala. Berkat keteguhan hati, keberanian, serta restu Dewa Siwa, ia akhirnya berhasil membawa pulang roh kedua orang tuanya agar upacara yadnya di Puri Astinapura dapat berlangsung sempurna. Kisah tersebut menjadi simbol pengabdian tulus dalam mewujudkan nilai Atma Kerthi, yakni penyucian dan pemuliaan jiwa.
Ketua Sanggar sekaligus Koordinator Seni, I Gusti Ngurah Gede Karma Saputra, S.Pd., mengaku optimistis sejak awal bahwa garapan “Angkus Prana” mampu memberikan penampilan terbaik di panggung PKB.
“Dengan kemampuan seluruh personel yang kami libatkan, Astungkara malam ini kami bisa menggetarkan Art Center di Kalangan Ayodya,” ujarnya.
Menurutnya, pementasan ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan moral tentang bakti kepada orang tua, pengorbanan, serta pentingnya menjaga warisan budaya Bali melalui kreativitas generasi muda.
Ia berharap PKB terus menjadi ruang lahirnya seniman-seniman muda yang mampu menjaga keberlangsungan seni tradisi Bali.
“Semoga Pesta Kesenian Bali tahun ini dan tahun-tahun berikutnya terus memotivasi serta melahirkan bakat-bakat seniman muda agar tetap berkarya dalam melestarikan seni budaya Bali,” katanya.
Sebanyak 27 seniman terlibat dalam garapan ini, terdiri atas 11 penari dan 16 penabuh. Persiapan telah dimulai sejak Februari 2026 melalui tahapan rapat konsep, prosesi nuasen, hingga latihan intensif.
Meski proses latihan sempat terkendala karena bertepatan dengan Hari Raya Galungan, Kuningan, dan berbagai kegiatan adat di desa, seluruh tim tetap mampu menjaga konsistensi latihan melalui koordinasi yang baik.
“Kendala tentu ada, apalagi latihan bertepatan dengan Galungan, Kuningan, dan kegiatan adat di desa. Namun berkat komunikasi dan koordinasi yang baik, kami bisa menemukan solusi sehingga latihan tetap berjalan sesuai jadwal,” jelasnya.
Penampilan “Angkus Prana” menjadi bukti bahwa seni pertunjukan tradisi Bali tidak hanya menyuguhkan estetika, tetapi juga menghadirkan pesan moral yang relevan tentang pengabdian, keteguhan hati, dan pelestarian budaya kepada generasi masa kini. BWN-03/Kominfo































