Mangupura, baliwakenews.com – Malam itu, udara Jimbaran terasa lembab. Waktu hampir menunjukkan pukul 23.30 WITA ketika Moh Sahrudin, 31 tahun, memutuskan keluar dari kamarnya. Suasana di luar cukup riuh. Tiga mahasiswa tampak berbincang dan tertawa lepas di teras kos. Lelah setelah seharian bekerja, suara mereka terdengar mengganggu di telinganya. Dengan nada sopan, ia meminta mereka untuk sedikit meredam kegembiraan malam itu.
Permintaan sederhana. Namun ternyata menyulut kejadian yang tak disangka-sangka. Kos sederhana di Jalan Kampus Udayana, tepat di depan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Udayana, mendadak menjadi saksi kekerasan yang membekas. Minggu dini hari, 11 Mei 2025, sekitar pukul 01.15, kamar Sahrudin digedor. Bukan oleh tiga mahasiswa yang ditegurnya tadi, tapi oleh puluhan orang yang diduga teman-teman mereka, sekitar 30 orang, kebanyakan mahasiswa asal Papua.
Sahrudin sempat mengintip dari balik pintu. Banyak wajah asing berdiri di luar kamar. Ia panik. Pintu segera ditutup. Tapi itu tak menghentikan amarah di baliknya. Teriakan dan hentakan menghantam pintu hingga rusak. Ketika pintu akhirnya terbuka, tak ada lagi ruang untuk berdialog.
Ia dipukul. Ditendang. Di keroyok secara brutal. Kamelia, istrinya, yang mendengar keributan dari dalam kamar, berusaha keluar dan melerai. Tapi niatnya tak berbalas baik. Ia ikut jadi korban. Wajah dan hidungnya lebam akibat hantaman tangan-tangan yang tak dikenalnya.
Seorang petugas yang enggan disebut namanya menyebutkan, setelah amarah massa dilampiaskan, Sahrudin diminta untuk meminta maaf. Tak cukup dengan kata-kata, mereka merekamnya. Sebuah paksaan yang dilandasi rasa kuasa.
Sahrudin berasal dari Sumenep, Madura. Kamelia dari Buleleng, Bali. Keduanya hidup sederhana di kos tersebut, tak jauh dari kampus Udayana. Kehidupan mereka yang biasanya tenang, porak-poranda oleh malam mencekam itu.
Polresta Denpasar sudah menerima laporan. AKP Ketut Sukadi, Kasi Humas, membenarkan adanya kejadian. “Benar, korban sudah melapor ke Polsek Kuta Selatan. Saat ini kasus masih dalam penyelidikan oleh Unit Reskrim,” ujarnya, Rabu, 14 Mei.
Pihak kepolisian telah memeriksa korban dan saksi. Surat visum sudah dikeluarkan. Pelaku masih dalam proses identifikasi. Dugaan sementara, mereka merupakan mahasiswa yang tergabung dalam satu komunitas yang sama. BWN-01































