Macet Parah hingga 3 Jam ke Uluwatu, Dishub Badung Berlakukan Rekayasa Lalu Lintas Mulai Sore Hari

Iklan Home Page

Mangupura, Baliwakenews.com

Kemacetan parah yang selama ini menghantui jalur menuju kawasan wisata Uluwatu akhirnya mendapat perhatian serius. Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Badung mulai menerapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan di wilayah Desa Pecatu, Kuta Selatan, guna memangkas antrean kendaraan yang kerap mengular hingga berjam-jam.

Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak Selasa (2/6/2026) dan berlaku setiap hari pada pukul 14.00 hingga 22.00 Wita, waktu yang selama ini menjadi puncak lonjakan kendaraan menuju berbagai destinasi wisata di kawasan Uluwatu.

Kepala Dinas Perhubungan Badung, Anak Agung Gede Rahmadi, mengungkapkan bahwa langkah ini diambil setelah kemacetan di jalur menuju Pura Uluwatu semakin mengkhawatirkan. Bahkan dalam kondisi tertentu, wisatawan maupun masyarakat harus menghabiskan waktu hingga tiga jam hanya untuk mencapai kawasan wisata tersebut.

Baca Juga:  Pendaftaran KIP Kuliah Dibuka, Plt. Kadis Supartawan Ajak Siswa Manfaatkan Peluang Jadi Sarjana

“Untuk mengurangi kemacetan tersebut agar pariwisata merasa nyaman dan masyarakat juga merasa nyaman, maka kami melakukan penguraian arus melalui rekayasa lalu lintas,” ujar Rahmadi.

Dalam skema baru tersebut, sejumlah pembatasan arus kendaraan diberlakukan. Kendaraan roda empat dari Simpang Jalan Baler Setra–Jalan Belimbing Sari menuju arah barat di Jalan Uluwatu tidak diperbolehkan melintas dan hanya dapat dilalui sepeda motor. Selain itu, kendaraan dari Jalan Uluwatu dilarang masuk ke Jalan Toya Ning II, begitu pula kendaraan dari Jalan Toya Ning II tidak diperkenankan menuju arah barat Jalan Uluwatu.

Baca Juga:  Saat Pandemi Covid-19, PSK Asal Uzbekistan Dibandrol Rp 2,5 Juta

Dishub Badung juga menempatkan petugas di sejumlah titik strategis untuk memastikan rekayasa berjalan efektif. Pengawasan dilakukan di Simpang Kantor Perbekel, Simpang Belimbing Sari, Simpang Toya Ning, Simpang Matsuka, Simpang Nirmala, hingga Simpang Politeknik.

Menurut Rahmadi, penerapan rekayasa pada sore hingga malam hari dipilih karena menjadi waktu favorit wisatawan untuk berburu panorama matahari terbenam dan menyaksikan pertunjukan Tari Kecak di kawasan Uluwatu.

“Pagi hari masyarakat tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Peningkatan volume kendaraan biasanya terjadi saat wisatawan dan masyarakat mulai bergerak menuju objek wisata untuk menikmati sunset dan pertunjukan kecak,” jelasnya.

Baca Juga:  Dukung Liga dan Pameran Ikan Koi Tingkat Nasional, Bupati Sanjaya Harapkan Mampu Meningkatkatkan Promosi Potensi Tabanan

Meski sebagian pengendara harus menempuh jalur yang sedikit lebih jauh, Dishub menilai langkah tersebut akan jauh lebih efektif dibanding terjebak dalam kemacetan panjang.

“Waktu perjalanan bisa lebih singkat walaupun jarak tempuh sedikit bertambah. Yang terpenting masyarakat dan wisatawan bisa lebih nyaman saat menuju Uluwatu,” tegasnya.

Penerapan rekayasa lalu lintas ini diharapkan menjadi solusi jangka pendek untuk menjaga kelancaran akses menuju salah satu destinasi wisata unggulan Bali, sekaligus menjaga kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke kawasan selatan Pulau Dewata. BWN-03/Kominfo

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR