Mangupura, baliwakenews.com
Tingginya kasus wisatawan terseret arus di kawasan Pantai Kuta dan sekitarnya mendorong UPTD Penyelamatan Wisatawan (Lifeguard) Kecamatan Kuta mengambil langkah preventif melalui jalur pendidikan. Program edukasi keselamatan pantai ke sekolah-sekolah kini tengah disiapkan sebagai upaya menekan angka kecelakaan laut yang selama ini banyak menimpa anak-anak.
Kepala UPTD Penyelamatan Wisatawan (Lifeguard) Kecamatan Kuta, I Wayan Somer, mengungkapkan bahwa berdasarkan data dan pengalaman penanganan di lapangan, mayoritas korban terseret arus berasal dari kelompok usia anak-anak. Minimnya pemahaman mengenai karakteristik pantai dan arti rambu-rambu keselamatan menjadi salah satu penyebab utama.
“Sebagian besar korban yang kami tangani memang anak-anak. Karena itu edukasi sejak dini sangat penting agar mereka memahami bahaya laut, mengenali area berisiko, serta mengerti arti rambu-rambu yang dipasang petugas di pantai,” ujar Somer, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, sejumlah titik di kawasan Pantai Kuta memiliki karakteristik arus balik atau rip current yang cukup kuat dan berpotensi membahayakan wisatawan. Untuk mengurangi risiko tersebut, petugas lifeguard secara rutin melakukan pengawasan dan memasang berbagai tanda peringatan.
Bendera merah dipasang pada area yang berbahaya dan dilarang untuk aktivitas berenang maupun bermain air. Sementara bendera merah-kuning menunjukkan zona yang relatif aman dan berada dalam pengawasan petugas penyelamat.
Meski berbagai rambu telah dipasang, masih banyak wisatawan yang mengabaikan atau tidak memahami makna tanda-tanda tersebut. Kondisi ini menjadi alasan Lifeguard Kuta menggagas sosialisasi langsung ke lingkungan sekolah.
Melalui program tersebut, para siswa akan dibekali pengetahuan tentang karakteristik pantai, bahaya arus balik, fungsi rambu keselamatan, hingga tindakan yang harus dilakukan saat menghadapi kondisi darurat di laut.
“Kami ingin anak-anak memiliki kesadaran sejak dini. Jika mereka memahami risiko yang ada, mereka akan lebih disiplin saat berada di pantai sehingga potensi kecelakaan dapat diminimalkan,” kata lifeguard senior asal Desa Pecatu, Kuta Selatan tersebut.
Selain mengedepankan edukasi, Lifeguard Kuta juga terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari Polairud, nelayan, hingga relawan kebencanaan. Kolaborasi tersebut dinilai sangat penting untuk mempercepat respons ketika terjadi insiden di perairan.
Di tengah keterbatasan personel dan sarana operasional, Somer menegaskan seluruh anggota lifeguard tetap berkomitmen memberikan pelayanan maksimal demi menjaga keselamatan masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke kawasan pantai.
Dukungan terhadap langkah tersebut juga disampaikan Kanit Gakkum Polairud Denpasar, Iptu Andy Cahyono. Ia menilai koordinasi antara Polairud dan Lifeguard Kuta selama ini berjalan baik dan perlu terus diperkuat.
“Kami mengapresiasi sinergi yang sudah terjalin. Ke depan, koordinasi harus semakin ditingkatkan agar upaya pencegahan maupun penyelamatan korban dapat dilakukan lebih cepat dan efektif,” ujarnya.
Salah satu upaya yang akan dioptimalkan adalah pemanfaatan grup komunikasi gabungan yang melibatkan berbagai unsur terkait di lapangan. Melalui jalur tersebut, informasi kejadian darurat dapat langsung diterima dan ditindaklanjuti tanpa harus menunggu laporan resmi.
“Begitu ada informasi kejadian, kami langsung bergerak ke lokasi. Semakin cepat respons dilakukan, semakin besar peluang korban dapat diselamatkan,” tegas Andy.
Melalui kombinasi edukasi sejak dini, pengawasan di kawasan pantai, serta koordinasi lintas instansi, diharapkan angka korban terseret arus di Pantai Kuta dan sekitarnya dapat terus ditekan, sehingga kawasan wisata pantai tetap aman dan nyaman bagi seluruh pengunjung. BWN-04
































