Denpasar, baliwakenews.com
Peralihan sebagian aktifitas luar ruangan menuju rumah tinggal akibat pandmei Covid-19, membuat konsumsi listrik di tingkat rumah tangga meningkat. Rata-rata peningkatan itu mencapai 2,7 persen dari konsumsi sebelum terjadi pandemi Covid-19.
“Ini karena ada kebijakan work from home. Penggunaan alat elektronik, seperti AC meningkat,” ujar Adi Priyanto, General Manager (GM) PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali, dalam jumpa pers pada Kamis (25/6) di rumah makan Bendega, Jl. Cok Agung Tresna No. 37, Denpasar.
Kendati demikian, pihaknya menyadari bahwa peningkatan tersebut belum mampu menggantikan jumlah konsumsi listrik segmen lain seperti industri, yang turun drastis. Adi Priyanto menyebutkan beban puncak listrik di Bali selama masa pandemi turun menjadi 640-660 Mega Watt (MW) atau sekitar 30 persen.
Pada tahun 2019 lalu, PLN Bali mencatat beban puncak mencapai 980 MW. “Penurunan terjadi karena industri sedang lesu akibat Covid-19. Usaha yang biasanya buka sampai malam, tidak lagi. Tentu ini berdampak terhadap pendapatan kami,” ungkapnya.
Kata dia, turunnya konsumsi dapat dijadikan ukuran geirah perputaran ekonomi. Apabila konsumsi listrik tinggi, maka dipastikan ekonomi cukup bergairah. “Khusus untuk segmen bisnis, konsumsi turun sebanyak 10 persen selama pandemi,” ujarnya didampingi Manager Komunikasi PLN UID Bali, I Made Arya.
Menyambut tatanan hidup baru, Adi cukup percaya diri mengatakan PLN Bali siap memberi layanan optimal. Termasuk melayani penambahan daya dan juga pemasangan listrik baru.
Pihaknya juga siap mendukung Pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan program Bali Energi Bersih melalui pengurangan bahan penggerak listrik dari minyak dan beralih ke tenaga surya (PLTS). BW-06

































