Kuta, baliwakenews.com
Suara ombak yang biasanya menjadi daya tarik wisata di Pantai Kuta berubah menjadi sumber kekhawatiran pada Kamis (6/11/2025) malam. Gelombang tinggi kembali menerjang kawasan pesisir dan menghantam pedestrian di beberapa titik, terutama di jalur wisata utama yang setiap harinya dipadati turis dan pedagang lokal.
Paving yang terangkat, pasir yang menumpuk di jalur jalan, serta tumpukan material menjadi pemandangan baru di antara deretan pohon dan kursi pantai. Di sisi lain, sejumlah pedagang terlihat menyingkirkan sisa pasir dari depan kiosnya sambil berharap kondisi ini tak berlarut.
“Kalau rob seperti ini datang malam-malam, kami hanya bisa pasrah. Tapi sekarang jalannya rusak, wisatawan agak takut lewat,” ujar salah seorang pedagang di tepi pantai tersebut.
Bagi banyak pelaku pariwisata, pedestrian bukan sekadar jalur pejalan kaki, melainkan wajah Kuta itu sendiri. Jalur inilah yang menjadi tempat wisatawan berjalan santai menikmati senja, menyapa nelayan, atau sekadar berburu foto. Maka, setiap kerusakan di sana berarti gangguan pada denyut kehidupan ekonomi masyarakat.
Menanggapi situasi ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung bergerak cepat. Sejak Jumat (7/11) pagi, dua unit alat berat, bulldozer dan excavator diturunkan untuk merapikan paving yang terangkat dan membersihkan material pasir yang terbawa ombak.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Badung, Anak Agung Rama Putra, menjelaskan langkah tersebut bersifat darurat. “Perbaikan sekarang sebatas perapian dulu karena kami tidak ingin mengganggu progres pekerjaan Balai Wilayah Sungai (BWS) yang sedang membangun breakwater. Setelah proyek selesai, baru dilakukan perbaikan permanen,” terangnya, Senin (10/11/2025).
Area yang diperbaiki sementara membentang sekitar 75 meter, terutama di sisi selatan dekat Hotel Hard Rock. Fokusnya adalah memastikan akses pejalan kaki tetap aman, sambil menunggu penyelesaian proyek breakwater, struktur pemecah ombak yang digadang-gadang akan menjadi penyelamat baru bagi Pantai Kuta.
Menurut Gung Rama, selama dua tahun terakhir area ini relatif aman, namun kali ini pola arus gelombang berbeda dari biasanya. “Kemungkinan ada perubahan arah gelombang yang membuat air laut masuk lebih jauh ke daratan,” katanya.
Proyek breakwater yang tengah digarap BWS Bali–Penida menjadi harapan utama. Tahap pengisian pasir direncanakan mulai akhir November. Setelah itu, barulah dilakukan pemeliharaan permanen pada pedestrian dan area sekitarnya.
Meski demikian, sejumlah pelaku usaha berharap adanya koordinasi lebih intens antarinstansi agar langkah teknis dan pemulihan tidak mengganggu aktivitas ekonomi. Bagi masyarakat dan wisatawan, rob bukan fenomena baru. Namun bagi Kuta yang kini dikejar waktu antara pembangunan dan keberlanjutan, setiap gelombang tinggi selalu membawa pesan, bahwa alam punya cara sendiri untuk mengingatkan manusia menjaga keseimbangannya. BWN-04

































