Kecelakaan Pesawat Jadi Ujian Terberat, Ratusan Penumpang Disimulasikan Jadi Korban

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Kesiapsiagaan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dalam menghadapi kondisi darurat diuji melalui Airport Emergency Exercise (AEE), Rabu (23/9). Dari tiga skenario yang dimainkan, simulasi kecelakaan pesawat dengan ratusan penumpang menjadi ujian paling kompleks karena melibatkan hampir seluruh unsur komunitas bandara dan instansi terkait.

Dalam latihan skala penuh tersebut, tiga kondisi darurat disimulasikan secara berurutan, yakni gempa bumi yang memicu kebakaran gedung, ancaman bom di area terminal, serta kecelakaan pesawat dengan ratusan penumpang.

Latihan tidak hanya menguji kecepatan respons petugas di lapangan, tetapi juga jalur komunikasi, koordinasi lintas instansi, serta penerapan prosedur dalam penanganan keadaan darurat.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Nugroho Jati, mengatakan AEE menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh unsur bandara memiliki kesiapan dalam menghadapi kondisi darurat sebenarnya.

“Sebagai pintu gerbang udara utama di Bali yang melayani hingga 24 juta penumpang dan lebih dari 140 ribu pergerakan pesawat setiap tahunnya, langkah mitigasi dan kesiapsiagaan seluruh instansi dalam menghadapi keadaan darurat menjadi sangat penting,” ujar Nugroho Jati.

Pesawat Terbakar, 350 Orang Disimulasikan Jadi Korban

Skenario paling kompleks dimainkan melalui Aircraft Accident Exercise. Dalam simulasi tersebut, pesawat Boeing 777-200ER milik Angkasa Air dengan nomor penerbangan AA239, yang membawa 350 penumpang dan awak, mengalami kecelakaan sesaat setelah touchdown di landasan pacu.

Baca Juga:  Rakor Utilitas di Kutsel, Trantib Ancam Potong Kabel Membahayakan Warga

Pesawat kemudian digambarkan terbakar hebat. Setelah menerima informasi kecelakaan dari petugas Air Traffic Control (ATC) di menara AirNav Indonesia, personel Airport Rescue & Fire Fighting (ARFF) segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman sekaligus mengevakuasi penumpang.

Dalam skenario tersebut, sebanyak 187 orang digambarkan selamat, 143 orang mengalami luka-luka, sementara 20 orang dinyatakan meninggal dunia.

Penanganan kecelakaan melibatkan berbagai unsur, di antaranya Kantor Otoritas Bandara, AirNav Indonesia, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Imigrasi, Bea Cukai, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, ground handling, maskapai penerbangan, Kepolisian, TNI AU, rumah sakit, hingga pemadam kebakaran.

Keterlibatan banyak instansi tersebut menjadi bagian penting dalam simulasi untuk menguji koordinasi ketika kecelakaan pesawat benar-benar terjadi.

“Dalam Airport Emergency Exercise skala penuh ini turut diikuti oleh berbagai instansi anggota komunitas bandara dan instansi eksternal lainnya, dengan tujuan untuk memperkuat jalur koordinasi dan komunikasi jika terjadi kondisi darurat yang sebenarnya,” kata Nugroho.

Gempa Picu Kebakaran Hotel

Sebelum simulasi kecelakaan pesawat, skenario pertama menguji respons terhadap gempa bumi yang memicu kebakaran gedung.

Gempa berkekuatan 5,9 SR diasumsikan terjadi pada pukul 16.00 WITA dengan titik gempa di sekitar Selat Lombok pada kedalaman 8 kilometer.

Baca Juga:  Wayan Suyasa Ditarget Capai 20 Persen Suara Golkar di Legislatif Badung

Gempa tersebut digambarkan menimbulkan kepanikan pengguna jasa bandara dan berdampak terhadap aktivitas di Hotel Novotel yang berada di kawasan bandara.

Saat gempa terjadi, seorang pegawai hotel yang sedang memasak makanan pesanan pengunjung berlari meninggalkan dapur. Dalam skenario tersebut, terjadi korsleting listrik yang kemudian memicu kebakaran.

Petugas hotel sempat berusaha memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Namun, api semakin membesar dan tidak terkendali.

Petugas kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada ARFF Bandara Ngurah Rai. Personel ARFF bergerak untuk memadamkan api sekaligus mengevakuasi korban yang terdampak kepulan asap di gedung hotel.

Skenario ini menguji kesiapsiagaan personel ARFF, jalur komunikasi, serta penerapan Airport Disaster Management Plan (ADMP) dalam menghadapi kebakaran gedung dan proses evakuasi korban.

Ancaman Bom di Terminal

Skenario kedua berfokus pada aspek keamanan melalui Airport Security Exercise.

Dalam simulasi tersebut, seorang petugas kebersihan bandara digambarkan telah direkrut oleh kelompok yang bertujuan mengganggu keamanan. Petugas tersebut membawa ransel berisi bom rakitan menuju ruang tunggu keberangkatan General Aviation Terminal (GAT) di sisi selatan runway.

Petugas Airport Security kemudian memeriksa petugas kebersihan tersebut dan meminta ranselnya diperiksa menggunakan mesin X-ray. Dari pemeriksaan tersebut, teridentifikasi adanya rangkaian bom di dalam ransel.

Setelah dilakukan konfirmasi, petugas kebersihan tersebut kemudian melarikan diri dan meninggalkan ransel di mesin X-ray.

Situasi selanjutnya ditangani melalui koordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan langkah penanganan terhadap ancaman keamanan.

Baca Juga:  Jangan Hanya Lihat Devisa Visa, Pengamat Sebut Bebas Visa Kunci Indonesia Menang di Persaingan Pariwisata Global

Skenario tersebut menguji kesiapan personel Airport Security, peralatan pemeriksaan, serta alur koordinasi antarinstansi yang tergabung dalam Airport Security Committee, termasuk dengan Pecalang.

Dokumen Airport Security Programme (ASP) juga diuji untuk melihat kesiapan dalam menghadapi ancaman yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan.

Uji Prosedur dan Dokumen Darurat

Menurut Nugroho, latihan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menguji kesiapan personel maupun berbagai dokumen dan prosedur yang menjadi pedoman dalam penanganan kondisi darurat.

“Latihan ini juga menjadi sarana untuk menguji kesiapan personel sekaligus berbagai dokumen dan prosedur, antara lain Airport Emergency Plan (AEP), Airport Security Programme (ASP), dan Airport Disaster Management Plan (ADMP),” tegasnya.

Sebelum latihan digelar, pihak bandara telah melakukan sosialisasi kepada pengguna jasa dan masyarakat terkait pelaksanaan AEE. Dengan demikian, kegiatan simulasi tersebut tidak mengganggu pelayanan penumpang di Bandara Ngurah Rai.

“Kami turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengguna jasa bandara atas atensi dan kerja sama yang baik selama pelaksanaan AEE,” pungkasnya. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR