Denpasar, baliwakenews.com
Debat ketiga pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Tabanan diwarnai dengan saling sindir. Isu intimidasi politik dan ketidaknetralan penyelengara Pilkada mencuat dalam debat yang digelar di Bali Sunsetroad Convention Center (BSCC) pada Rabu (20/11) malam
Pasangan I Nyoman Mulyadi dan I Nyoman Ardika tampil dominan dengan menyoroti adanya intimidasi terhadap masyarakat dan pegawai pemerintahan yang berbeda pilihan. “Adanya pengarahan pegawai termasuk guru-guru untuk kepentingan politik tertentu, ancaman karir terhadap mereka yang berbeda pilihan politik, dan pemberian hibah yang digunakan sebagai alat untuk menyandera kepentingan politik. Hal-hal seperti ini sangat mencederai demokrasi kita,” ujar Ardika tegas, dalam debat yang mengambil tema “Menjaga Kebebasan Warga Negara dan Keharmonisan Kehidupan Sosial”.
Ardika juga menyentil politik intimidasi dan tidak netral masih sangat kuat di kabupaten berjulukan lumbung padinya Bali itu. Seperti, penggunaan atribut politik tertentu di ruang publik masih banyak ditemukan. “Ini mempertegas adanya keberpihakan dan tidak netral dalam pilkada di Tabanan gang dilakukan pihak penyelengara dan pengawas,” bebernya.
Tudingan yang dilontarkan Ardika langsung dibantah oleh calon petahana nomor urut 2, Komang Gede Sanjaya, yang berpasangan dengan Made Dirga. Sanjaya menegaskan bahwa tidak pernah ada tindakan intimidasi seperti yang disampaikan oleh paslon Mulyadi-Ardika.
Tidak pernah ada intimidasi seperti yang disangkakan. Pengerahan pegawai hingga guru untuk tujuan politik adalah tuduhan yang sangat subjektif. “Semua pelanggaran politik diawasi ketat oleh Bawaslu dan lembaga terkait. Kita ini negara hukum, semua ada mekanismenya,” ujar Sanjaya dalam pembelaannya. BWN-01





























