Denpasar, baliwakenews.com
Bertepatan dengan Hari Koperasi ke -74, Senin 12 Juli 2021, Asisten I Setda Provinsi Bali, yang merupakan Tokoh Gerakan Koperasi di Bali, I Gede Indra Dewa Putra, SE. MM., mengajak anggota koperasi di Bali meningkatkan loyalitas. Bila anggota koperasi solid, maka usaha yang berasas kekeluargaan tersebut akan mampu bertahan di tengah pandemi COVID-19, yang meluluhlantahkan perekonomian dunia.
Mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali tersebut mengatakan problem koperasi satu tahun terakhir ini adalah likuiditas di koperasi menurun, kredit macet/NPL meningkat. Sehingga jumlah koperasi yang kekurangan likuiditas dan bermasalah atau merugi mengalami peningkatan. Melihat persoalan tersebut pria yang jadi anggota koperasi di berbagai tempat, baik depo kabupaten Bandung, Provinsi bahkan tingkat nasional, ini mengingatkan koperasi karena dibentuk dari, oleh dan untuk anggota.
“Maka harus dilakukan konsolidasi internal, menguatkan modal sendirinya, memperkuat sifat solidaritas karena fungsi koperasi saling kerja sama, saling membantu. Jadi, jati diri koperasi itu harus dihidupkan kembali, sambil memecahkan persoalan yang dihadapi koperasi termasuk persoalan modal,” ucap Gede Indra yang meraih penghargaan Satya Lencana Wira Karya saat Harkopnas Ke-72, sebagai tokoh penggerak koperasi di Bali.
Ditambahkan, untuk bertahan saat pandemi ini, koperasi perlu meningkatkan kerja sama antar koperasi. Ada sebagian koperasi kekurangan modal, ada sebagian koperasi kelebihan modal karena tidak tersalur. “Saya lihat ada koperasi kelebihan modal, karena orang yang meminjam sedikit. Ini yang perlu melakukan kerja sama, ini fungsi mediasi dari koperasi sekunder, dinas koperasi maupun asosiasi koperasi misalnya Dekopin untuk menjembatani itu , ” tukasnya.
Di sisi lain, sekarang jamannya digital, jamannya perubahan. Perubahan era konsumen dan perubahan digitalisasi. Koperasi harus bisa beradaptasi dengan perubahan tersebut. “Transformasi tata kelola ke digital dan aplikasi, koperasi – koperasi harus mempermudah usaha – usahanya salah satunya dengan penggunaan digitalisasi. Mau tidak mau, suka tidak suka harus diubah, ” tandanya.
Selain itu ia juga menyoroti koperasi yang skala usahanya tidak efisien dan masih kecil- kecil. ” Untuk bayar gaji saja berat, bayar operasional kantor saja berat bagaimana bisa berkembang? Perlu dorongan koperasi – koperasi itu untuk bergabung, marger atau amalgamasi sehingga punya kekuatan dia, ” tandas pria asal Mengwi, Badung tersebut.
Meski demikian ia tetap optimis kalau pengurus dan pengelolaan koperasi mau membuka diri, masih banyak peluang yang bisa diraih koperasi. “Bila mindset / cara berpikir pengurus 5- 10 tahun ke depan prospek usaha apa yang menarik. Kalau di sektor keuangan simpan pinjam sudah jenuh, koperasi bisa bergerak di sektor lain yang lebih potensial. Peluang banyak kalau bisa disepakati anggota, dan saya optimis koperasi masih bisa banyak berperan, ” ucapnya.
Untuk memanfaatkan peluang yang ada, koperasi juga perlu memperhatikan terjadinya perubahan bonus demografi lima tahun ke depan. Dimana generasi milenial lebih mendominasi. “Itu tugas koperasi untuk bisa merangkul generasi muda untuk diajak menjadi anggota dan berperan dengan usaha – usaha yang sesuai dengan jiwa anak muda. Jadi tidak harus fokus pada simpan pinjam yang sudah mulai jenuh, ” tandanya.
Ada banyak potensi sektor usaha yang dapat dikembangkan. Apalagi dengan adanya UU cipta kerja, koperasi bisa bergerak di berbagai sektor usaha seperti pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan dalam arti luas dan lainnya. “Itu yang harus dilakukan, diversifikasi usaha seperti harapan Pak menteri sehingga menjadi koperasi yang modern. Dirgahayu Koperasi Ke-74, ” pungkas Gede Indra.*BWN-03

































