Badung, baliwakenews.com
Adaptasi kebiasaan baru ditengah pandemi Covid-19, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali gencar mengenalkan transaksi pembayaran digital atau nontunai melalui QR Code Indonesia Indonesian Standard atau QRIS. Direktur Utama Bank BPD Bali, Nyoman Sudharma, SH, MH didampingi Kepala Bank BPD Bali Cabang Badung, I Gst Agung Gede Suadnyana, ST., saat sosialisasi QRIS di Daya Tarik Wisata (DTW) Kawasan Luar Pura Uluwatu, menjelaskan bahwa BPD Bali telah melakukan digitalisasi pembayaran di beberapa tempat wisata di Pulau Dewata.
QRIS merupakan standarisasi pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia. Sejumlah tempat wisata di Bali telah menyediakan fasilitas pembayaran dengan QRIS BPD Bali. “Kali ini, kami menyasar DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu yang berada di Kabupaten Badung. Target kami 5 ribu -10 ribu merchant QRIS di tahun 2020,” jelas Sudharma.
Hal ini mengingat di masa tatanan kehidupan era baru, transaksi nontunai menjadi mutlak untuk menghindari penyebaran wabah global tersebut karena tidak ada sentuhan fisik. Makanya ditargetkan, merchant-merchant QRIS BPD Bali kali ini semakin bertambah.
Dikatakan, saat ini ada hampir 7 ribu merchant QRIS BPD di Bali. Bank BPD Bali pun kian gencar mengadakan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat terkait manfaat layanan pembayaran QRIS ini.
“Dengan QRIS pembayaran menjadi efisien sehingga menjadi standar dari Bank Indonesia. Masyarakat lebih mudah melakukan review terhadap hasil penjualan, sedangkan bagi bank akan lebih gampang melihat track record transaksi,” bebernya.
Lebih lanjut dikatakan, pihaknya menyasar DTW Uluwatu karena merupakan salah satu barometer pariwisata di Indonesia. Transaksi nontunai melalui QRIS BPD Bali dapat digunakan dalam digitalisasi pembayaran tiket, pembayaran kecak, dana punia hingga pedagang atau usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Uluwatu.
“Kami dorong semua transaksi menggunakan QRIS, selain di Uluwatu, setiap saat tim kami turun ke pasar-pasar atau ke UMKM khususnya. Pembayaran nontunai di masa pandemi ini dijadikan salah satu protokol kesehatan, sehingga transaksi menggunakan QRIS dapat lebih kencang lagi,” ucap Sudharma.
Sudharma mengajak masyarakat untuk menggunakan produk dan layanan Bank BPD Bali karena BPD Bali adalah bank milik masyarakat Bali. “Dengan memanfaatkan produk BPD Bali maka pendapatan yang kami peroleh akan kembali ke masyarakat,” tukasnya.
Ketua Pengelola DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, Wayan Wijana mengatakan, menggelar kegiatan Kecak Tatanan Kehidupan Era Baru Digitalisasi Sistem Pembayaran Berbasis QRIS BPD Bali di Uluwatu. Kegiatan tersebut muncul dari kondisi saat ini karena terjadi pandemi Covid-19.
“Kita mulai bangkit, berbenah dan beroperasi dengan berpatokan pada standar protokol kesehatan. Uluwatu tetap menarik, nyaman untuk dikunjungi dengan produktivitas kita tetap menjalankan protap-protap sesuai aturan yang ada,” katanya.
Dikatakan, pihaknya bersinergi dengan Bank BPD Bali yang juga mendukung DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu memberlakukan sistem pembayaran QRIS. “E-ticketing nanti akan kita berlakukan dan saat ini sudah berlaku. Nanti kita juga akan punya gate baru segala sesuatu berkaitan dengan e-ticketing difasilitasi Bank BPD Bali,” papar Wijana.
Sinergi dengan Bank BPD Bali akan terus dipertahankan untuk saling mendukung, sehingga DTW Uluwatu tidak tertinggal karena perkembangan zaman. “QRIS sebagai sistem alternatif pembayaran dari pengunjung,” tukasnya.
Kegiatan ini dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster yang secara resmi meluncurkan QRIS di DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati,Wakil Bupati (Wabup) Badung, Drs. I Ketut Suiasa , Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali Trisno Nugroho.
“Sejak Juni, Bank Indonesia bersama-sama dengan pemerintah daerah serta perbankan telah melakukan kunjungan ke berbagai tempat di seluruh 9 kota dan kabupaten yang ada di wilayah Bali dalam bentuk rangkaian kegiatan Road To Penerapan Tatanan Kehidupan Era Baru Di Provinsi Bali,” jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali Trisno Nugroho.
Dikatakan, dipilihnya Kawasan Objek Wisata Pura Uluwatu sangat tepat karena rata-rata kunjungan sebelum pandemi sebanyak 7.000 wisatawan per harinya. Meskipun sempat ditutup untuk beberapa waktu tapi pihaknya yakin, ke depannya Kawasan Objek Wisata Pura Uluwatu akan tetap menjadi tujuan wisata yang tidak mungkin dilewatkan oleh wisatawan saat berkunjung ke Bali.
“Belum ada yang mengalahkan sensasi menonton pertunjukkan Tari Kecak sambil menikmati keindahan Sunset di Laut Hindia Selatan dari tebing karang tinggi seperti di Uluwatu ini. Makanya, penerapan tatanan kehidupan era baru menjadi penting dilakukan di Kawasan Objek Wisata Pura Uluwatu guna menyambut kembali wisatawan yang berlahan mulai berdatangan ke Bali,” pungkas Trisno.*BWN-03
































