Denpasar, baliwakenews.com
Optimisme terus dikucurkan Partai Golkar dalam menyongsong tatanan hidup baru. Berpijak kepada keseimbangan potensi penggerak ekonomi, Golkar ingin Usaha Mikro, Kecil dan Menengah sektor pertanian makin bergairah.
Demikian disampaikan Ketua Dewan Pengrus Daerah Golkar Provinsi Bali, Nyoman Sugawa Korry, Selasa (23/6). Pandangan ini dia sampaikan dalam webinar bertajuk, “Strategi Operasional Pembangunan Sektor Industri dan UMKM Bali di Era New Normal”.
Webinar ini berlangsung di Kantor DPD Golkar Provinsi Bali, yang diikuti Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar dan sejumlah pengamat ekonomi dan pelaku UMKM.
“Saat ini populasi UMKM di Bali hanya 7,74 persen dari jumlah masyarakat. Ini menggembirakan, tapi kurang cukup. Karena paling tidak jumlahnya 10 persen sampai 14 persen,” ungkap Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali ini.
Sebagai salah satu pencetus Perda 3 Tahun 2012 tentang perlindungan koperasi dan UMKM, rendahnya populasi UMKM dipengaruhi sejumlah faktor. Namun yang paling berpengaruh menurutnya yakni penegakan regulasi berkenaan aktifitas UMKM.
Dalam hal ini, menurutnya eksekutif punya dua peran strategis. Pertama, dukungan distributitf misalnya mendorong pembinaan dan stimulus kepada UMKM. Kedua, dukungan regulatif yang salah satunya penegakan produk hukum dan penegakan hukum.
Dia memandang regulasi yang pro kepada UMKM sudah tercapai, hanya saja penegakan sanksi masih terbilang lemah. “Penegakan itu muaranya untuk menjawab persoalan yang dihadapi UMKM, seperti kualitas SDM, pasar, teknologi, modal dan managemen,” ungkapnya.
Menurutnya penegakan itu bergantung politika Will atau kemauan politik dari Pemerintah Provinsi Bali. Kebijakan pemerintah harus terintegrasi dengan kemampuan pelaku UMKM. Dalam meningkatkan kualitas, Sugawa mengusulkan agar pemerintah menggandeng perguruan tinggi (PT).
Misalnya, satu PT membina dan melahirkan 100 UMKM, sebab PT mempunyai kemampuan untuk itu. Sedangkan dalam membangun pasar, pemerintah didorong untuk mengembangkan industri sebagai penyaluran produk pertanian, peternakan, perkebunan dan lainnya.
Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Bali, Ketut Dharma Siadja sebagai salah satu pengamat UMKM, membenarkan bahwa populasi UMKM di Bali terbilang lemah. Padahal, sesungguhnya Bali sangat prospektif mengembangkan potensi tersebut.
“Memang benar (gairah kewirausahaan di Bali rendah), kami sering diundang oleh kampus-kampus untuk menyebarkan virus-virus kewirausahaan,” ungkapnya. Dharma mengatakan pihaknya berharap kalangan mahasiswa dapat menekuni dunia wirausaha untuk melahirkan lapangan kerja.
Khusus di ASEPHI, Dharma mengatakan pihaknya berupaya adaptif dalam segala situasi dan permintaan pasar. Apabila sebelumnya satu UMKM menekuni produk busana, bisa saja beradaptasi dengan menekuni usaha kuliner. Itu dipandangnya sebagai upaya untuk eksis.
Sugawa menambahkan, hasil pemikiran yang lahir dal webinar itu akan dirangkum menjadi sebuah buku. Nantinya, akan diusulkan kepada eksekutif dan legislatif di pusat maupun daerah. Sehingga pemikiran yang disumbang oleh Golkar dapat digunakan di seluruh kalangan. BW-06


































