Mangupura, baliwakenews.com – Minggu malam, 18 Mei 2025. Langit di atas Kuta tampak gelap tanpa bintang, tetapi jalanan tetap ramai, seperti biasa. Eko Prasetya (24) dan istrinya, Nurul Hikmah, sedang dalam perjalanan pulang dari Pantai Kuta, menumpang motor berdua, menyusuri riuhnya malam Bali. Tak ada firasat buruk. Tapi di persimpangan Dewa Ruci, semuanya berubah.
Sebuah motor tiba-tiba memotong jalur mereka. Refleks, Eko kaget dan berteriak. Sebuah umpatan keluar dari mulutnya, nyaris tanpa pikir panjang. Mungkin karena emosi. Mungkin karena ingin melindungi sang istri dari kemungkinan celaka. Tapi umpatan itu berbalas dendam.
Tak sampai beberapa menit, empat pemuda datang dengan dua motor. Mereka mengejar, memepet, dan memaksa motor Eko berhenti. Dalam hitungan detik, kekerasan pun pecah. Eko dipukul, ditendang, dihantam batu. Nurul hanya bisa menjerit, tubuhnya ditarik dan didorong. Malam itu, jalanan yang ramai tak mampu menghentikan kebrutalan yang terjadi tepat di depan Pos Polisi Simpang Dewa Ruci.
Kapolsek Kuta, AKP Agus Riwayanto Diputra, menyebut insiden itu dipicu oleh kesalahpahaman dan alkohol. Para pelaku, yang semuanya berasal dari Nusa Tenggara Timur, tengah mabuk dan merasa tersinggung atas teriakan Eko. “Motifnya karena pelaku merasa tidak terima temannya diteriaki oleh korban usai nyaris bersenggolan di jalan,” ujar Agus, Minggu (25/5).
Pengeroyokan itu menyisakan luka serius. Robek di kepala belakang, lebam di pelipis, luka di tangan dan pinggang. Eko menjadi sasaran utama kekerasan. Polisi menyebut Darren Jerremy Adoe bahkan menggunakan batu untuk menghantam kepala korban. Sementara tiga pelaku lainnya, Yoseph Richard D. Wahak, Jhordan Javerson Riwu, dan Puttu Sandro Bessie—bergiliran memukul dan menendang Eko tanpa ampun.
Penangkapan keempat pelaku tak memakan waktu lama. Jhordan lebih dulu diamankan di tempat kerjanya, sebuah hotel di kawasan Ungasan. Tiga lainnya menyusul: Darren, Yoseph, dan Putu Sandro ditangkap di wilayah Jimbaran dan Kuta pada Sabtu malam, 24 Mei.
Polisi mengamankan tiga motor dan sebuah batu sebagai barang bukti. Mereka juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa saksi, dan menyiapkan berkas perkara. “Kami lengkapi administrasi penyidikan, lakukan visum korban, dan koordinasi dengan jaksa,” tambah AKP Agus.
Kini, pasangan muda itu masih berusaha memulihkan luka fisik dan mental. Perjalanan malam yang semula biasa saja, berubah menjadi mimpi buruk yang tak akan mereka lupakan. Sementara Bali, surga wisata bagi banyak orang, malam itu mempertontonkan sisi kelamnya: kekerasan yang meledak dari emosi sesaat, dalam hitungan detik. BWN-01


































