Dua Gebogan Raksasa Disiapkan dalam Tumpek Kandang di Uluwatu

Iklan Home Page

Pecatu, baliwakenews.com

Dua gebogan raksasasa ukuran jumbo disiapkan dalam Perayaaan Tumpek Kandang di DTW Uluwatu, Sabtu 21 October 2023. Gebogan buah ini dipersembahkan kepada ratusan monyet yang ada di DTW tersebut. Perayaan yang dilaksnakaan setiap 6 bulan sekali ini juga dirangkai dengan pelepasliaran 75 burung perkutut ke alam.

Pelepasan burung dilakukan olen Pengempon dan Pengemong Pura Uluwatu serta Pengelola DTW dan Pelestari Perkutut ini. Momen spesial ini disambut antusias wisatawan yang ramai berkunjung ke Uluwatu. Mereka juga Ikut ambil bagian baik dalam momen pelepasan burung maupun memberi makan buah kepada ratusan monyet di sana.

Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta.menjelaskan, untuk gebogan yang disediakan pada Tumpek Kandang kali ini berupa dua gebogan berisi berbagai macam buah. “Penyediaan dua gebogan ini karena saat ini pengunjung sudah mulai membaik dan ini harus disyukuri. Apalagi, monyet adalah salah satu icon yang ada di Uluwatu. Karena sekarang adalah Tumpek Kandang dan sesuai dengan tradisi, kami menghaturkan sesajen. Gebogan kami tambah karena seiring penambahan populsi monyet yang begitu pesat. Sehingga kami bersepakat dengan memberikan gebogan yang diminati oleh monyet,” paparnya.

Baca Juga:  Sekda Adi Arnawa Salurkan Hibah Sebesar Rp 22 Miliar Untuk Lembaga Yang Memiliki SKT

Diakuinya saat pandemi, pihaknya hanya menyediakan satu gebogan saja. Namun, untuk kali ini sudah disediakan dua sekaligus dengan berbagai macam buah-buahan yang disukai monyet. Sumerta juga menjelaskan pada hari biasa, pihaknya tetap memberikan makanan secukupnya kepada monyet. “Kami harus kembalikan kepada mereka, ada retribusi oleh wisatawan ke pundi-pundi kas, maka kami alokasikan makanan secukupnya juga untuk monyet ini. Apalagi, kita baru melewati pandemi Covid-19 yang memporak porandakan ekonomi khususnya kami di pecatu yang sangat terdampak,” ujarnya.

Penglingsir Puri Jro Kuta selaku pengempon Pura Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya mengungkapkan momen tersebut adalah Perayaan Tumpek Kandang yang dilaksnakaan setiap 6 bulan sekali dan dilakukan umat sedarma. Bagaimana sebagai umat Hindu bisa bersinergi dengan binatang yang ada di sekitar dan dilakukan upacara. “Hari ini kami di Pura Luhur Uluwatu melakukan kegiatan bahwasanya kami ingin selalu dekat dengan para wenara dan para monyet di seluruh area Uluwatu,” ujar pria yang akrab disapa Turah Joko ini.

Baca Juga:  Pementasan Tari Bali kembali Digelar di GWK, Libatkan Seniman dari Sekaa di Bali

Selain itu, karena semakin hari populasi monyet di Uluwatu semakin berkembang. Yang mana saat ini sudah ada 650 monyet yang terdiri dari 6 kelompok. Keberadaan ratusan monyet ini, kata Turah Joko adaah aset yang dimiliki di Pura Uluwatu. “Karena pada dasarnya wisatawan yang hadir ini, menikmati empat kelebihan kelebihan yakni pura, sunset, kecak, dan monyet yang ada di sini,” imbuhnya.

Sementara Itu, Ketua Persatuan Pelestari Perkutut Indonesia, Budi Dharma mengaku berterima kasih kepada pengelola DTW Uluwatu karena diberikan kesempatan untuk bekerjasama dan dalam waktu yang tepat saat Tumpek Kadang. “Kami bekerjasama dengan pihak Uluwatu yakni melepasliarkan dan kami memberikan bibit burung perkutut juga berjumlah 10 pasang. Kami tidak hanya melepasliarkan saja tetapi kami bertanggung jawab soal kelanjutannya,” imbuhnya.

Manajer Pengelola Kawasan Luar Obyek Wisata Uluwatu, I Wayan Wijana berterima kasih kepada persatuan pelestari perkutut Indonesia atas pelepasliaran dan sumbangan perkutut untuk dipelihara warga. Menurutnya, Pelepasliaran burung perkutut ini suatu inovasi yang dilakukan di DTW Uluwatu. Sebenarnya kata Wijana burung perkutut ini adalah ikon lama di bukit (daerah Pecatu) yang kini mulai langka.

Baca Juga:  Serap Aspirasi Di Desa Taman, Suyasa Beri Motivasi Club Sepak Bola dan Sekaa Pelestari Seni, Adat dan Budaya

“Kalau dulu, orang kenal perkutut itu ada di bukit, namun lambat laun mulai punah dan langka, mungkin Salah satunya karena ada proses pembangunan dan lainnya. Selain kami menghargai monyet, kami sekarang ini juga berupaya membangun ekosistem kembali melestarikan lagi perkutut yang ada di bukit,” ujarnya sembari menambahkan dalam konsep Tri Hita Karana ini sangat masuk. Karena dengan konsep pariwisata budaya pelestarian burung, saling menghargai sesama, ini adalah suatu konsep yang betul-betul bersinergi. Karena Itu Pihaknya menyambut baik dengan memberikan program dan berharap terjadi suatu ekosistem burung perkutut lagi di Uluwatu ke depannya. “Kami berharap agar burung yang pernah eksis ini bisa kembali di Uluwatu. Sehingga kita bisa mendengar lagi suara burung berkicau dan tentunya akan memberikan suasana yang bagus bagi kita,” pungkasnya. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR