Singaraja, Baliwakenews.com
Di tengah kesibukan rumah tangga, tangan Kadek Puniantari tetap bergerak. Selembar daun lontar perlahan dibentuk, dipadukan dengan kain beludru dan mute hingga menjadi sebuah saab mute yang penuh detail.
Bagi sebagian orang, benda itu mungkin hanya perlengkapan adat. Namun bagi Puniantari, saab mute adalah keterampilan yang telah memberinya ruang untuk tetap produktif sekaligus membantu menambah penghasilan keluarga.
Sejak 2008, perempuan asal Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, itu menekuni kerajinan tersebut. Saat pertama belajar, statusnya masih sebagai ibu rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar waktunya mengurus anak.
“Saya mulai membuat saab mute sekitar 2008. Waktu itu sebagai ibu rumah tangga, saya belajar membuat saab mute sambil menjaga anak,” ujarnya.
Dari rumah, keterampilan itu terus diasah. Kini, dalam sehari Puniantari mampu menyelesaikan sekitar dua hingga tiga saab, tergantung tingkat kerumitan motif dan jumlah pesanan.
Semakin rumit motif yang dibuat, semakin panjang pula waktu pengerjaannya.
Di tangannya, daun lontar atau ental bukan sekadar bahan. Lontar menjadi bagian dari sebuah keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Nagasepaha.
Namun, warisan itu kini menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Perbekel Desa Nagasepaha, I Wayan Sumeken, S.Sos., mengingat bagaimana kerajinan saab mute pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian perempuan di desanya.
Pada era 1990-an, hampir setiap perempuan di Nagasepaha memiliki kemampuan membuat saab.
Setelah pekerjaan rumah tangga selesai dan anak-anak telah diurus, membuat saab menjadi salah satu kegiatan yang dikerjakan dari rumah. Waktu luang berubah menjadi karya, sementara hasil penjualannya membantu menopang ekonomi keluarga.
“Pada tahun 1990-an, hampir setiap perempuan di Desa Nagasepaha bisa membuat kerajinan saab. Selain mengisi waktu, hasilnya juga bisa membantu menambah ekonomi keluarga,” ungkap Sumeken.
Memasuki tahun 2000-an, jumlah pengrajin mulai berkurang. Salah satu perubahan paling terasa datang dari dunia pendidikan.
Jika dahulu sebagian besar masyarakat Nagasepaha menempuh pendidikan hingga tingkat SMP, kini semakin banyak anak-anak desa yang melanjutkan pendidikan hingga SMA bahkan perguruan tinggi.
Generasi muda tidak lagi hanya memiliki pilihan untuk meneruskan keterampilan orang tua. Banyak yang memilih bekerja di sektor lain setelah menyelesaikan pendidikan.
“Yang masih bertahan biasanya mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mereka membuat saab mute untuk menambah pendapatan keluarga,” kata Sumeken.
Di titik inilah saab mute berada dalam persimpangan: tetap hidup sebagai warisan budaya atau perlahan kehilangan generasi penerus.
Pemerintah Desa Nagasepaha menyadari bahwa mempertahankan saab mute tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat untuk terus membuatnya.
Kerajinan itu harus diberi ruang untuk berkembang.
Desa pun mendorong kerja sama dengan organisasi perangkat daerah, perguruan tinggi dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kerajinan lokal.
Bentuk dukungannya beragam. Mulai dari kajian, pelatihan, praktik pembuatan, bantuan bahan baku hingga pendampingan pengelolaan usaha.
Sejumlah perguruan tinggi bahkan telah melakukan penelitian terhadap saab mute Nagasepaha. Kerajinan ini dinilai memiliki keunikan dan masih terbuka untuk dikembangkan menjadi berbagai produk.
Sebab, penggunaan saab mute tidak harus berhenti pada kebutuhan adat dan keagamaan Hindu.
Menurut Sumeken, saab mute juga dapat dikembangkan sebagai hiasan rumah, dekorasi dinding hingga perlengkapan seperti tedung saji.
“Kami ingin saab mute bisa menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha dan terus dikembangkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujarnya.
Selera konsumen berubah. Produk harus mengikuti kebutuhan zaman. Karena itu, para pengrajin mulai melakukan inovasi pada motif dan desain.
Motif-motif tertentu dikombinasikan agar lebih sesuai dengan permintaan konsumen. Namun, perubahan tersebut tidak berarti menghilangkan karakter saab mute Nagasepaha.
Harga pun relatif beragam. Mulai dari sekitar Rp25 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung motif, ukuran dan permintaan.
Di sisi lain, pengrajin harus menghadapi persoalan klasik usaha kecil: harga bahan baku yang terus meningkat.
Puniantari merasakan langsung tekanan tersebut.
“Kendalanya bahan baku karena harganya terus naik, sementara harga kerajinan masih tetap. Ada persaingan dengan produk dari tempat lain sehingga harga harus menyesuaikan,” ungkapnya.
Kondisi itu membuat pengrajin harus pintar menjaga keseimbangan antara biaya produksi, harga jual dan daya beli konsumen.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Puniantari tetap membuat saab mute dari rumahnya.
Bukan hanya karena pesanan, tetapi juga karena ada keterampilan yang ingin terus dipertahankan.
Bagi pengrajin seperti Puniantari, membuat saab bukan pekerjaan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Ia bisa mengerjakannya sembari menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
Di situlah kekuatan kerajinan tradisional ini bertahan selama bertahun-tahun: dari rumah ke rumah, dari tangan ibu kepada anak, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kini, ketika generasi muda Nagasepaha memiliki semakin banyak pilihan masa depan, tantangannya bukan sekadar bagaimana menjual lebih banyak saab mute.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana membuat keterampilan tersebut tetap dianggap bernilai sehingga ada generasi yang bersedia mempelajarinya.
Desa Nagasepaha ingin saab mute menjadi ikon desa. Para pengrajin berharap pasarnya semakin luas. Sementara di tangan para pembuatnya, daun lontar, beludru dan mute terus dirangkai menjadi karya.
Sebab pada akhirnya, yang sedang dipertahankan dari saab mute bukan hanya sebuah benda, melainkan pengetahuan, keterampilan dan cerita tentang kehidupan masyarakat Nagasepaha yang diwariskan dari generasi ke generasi. BWN-03
































