Badung, baliwakenews.com
Di bawah langit yang mulai kelabu menjelang puncak musim hujan, deru mesin amphibi terdengar di alur Tukad Mati, kawasan Kuta. Lumpur dan sedimen pelan-pelan diangkat dari dasar sungai, meninggalkan riak kecil di air kecokelatan. Bagi warga sekitar, pemandangan ini membawa rasa lega tanda bahwa musim hujan kali ini, mereka tak lagi sendiri menghadapi ancaman genangan.
Upaya itu bukan kebetulan. Sejak pertengahan tahun, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung telah menyiapkan strategi besar untuk menekan risiko banjir yang kerap menghantui kawasan padat wisata tersebut.
Salah satu senjata andalannya: alat berat amphibi, mesin multifungsi yang mampu melaju di air dan lumpur, sesuatu yang tak bisa dilakukan alat konvensional.
“Sekarang pengerukan sudah mencapai sekitar 130 meter dari titik trash rake di jembatan. Target kami, Desember sudah bergerak ke selatan, sampai belakang Kantor Camat Kuta,” tutur Anak Agung Rama Putra, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Badung, Senin (10/11/2025).
Tukad Mati sendiri membentang sepanjang 1,7 kilometer hingga bermuara di kawasan Loloan, wilayah yang dikenal sebagai titik rawan genangan setiap kali curah hujan tinggi. Di sana, sedimen tebal sering menghambat aliran air, memperparah risiko banjir di permukiman dan jalan wisata utama seperti Dewi Sri dan Kartika Plaza.
Sejak Juli lalu, bahkan sebelum banjir rob sempat terjadi pada September, proses normalisasi Tukad Mati sudah dimulai. PUPR kini mengoperasikan dua unit amphibi dan berencana menambah dua unit lagi pada Desember mendatang, langkah yang akan membuat total armada menjadi empat unit.
Bagi Gung Rama, kehadiran amphibi bukan sekadar alat berat, melainkan simbol efisiensi baru dalam pekerjaan lapangan yang kerap dihadapkan dengan keterbatasan akses dan waktu.
“Amphibi bisa menjangkau area yang tidak bisa dilalui alat konvensional. Jadi proses pengerukan lebih cepat, dan kami bisa bekerja tanpa tergantung kondisi lahan,” ujarnya.
Di lokasi, alat itu tampak seperti kombinasi antara ekskavator dan perahu. Lengan besinya menembus dasar sungai, mengangkat endapan yang selama ini menahan laju air. Sementara tubuhnya yang mengapung di atas ponton memastikan mesin tetap stabil, bahkan di air yang dalam.
Selain pengerukan, kesiagaan pompa air menjadi perhatian utama. PUPR menempatkan pompa di titik-titik strategis seperti Arjuna, Dewi Sri, dan Kartika Plaza, kawasan yang menjadi nadi aktivitas wisata dan perdagangan di Kuta.
Setiap pompa mampu mengalirkan air hingga 1.600 meter kubik per jam, dan seluruhnya diuji setiap hari selama 15 menit untuk memastikan performanya tetap optimal. “Semua pompa dalam kondisi siap. Kami rutin operasikan harian untuk memastikan tidak ada gangguan teknis,” kata Gung Rama.
Ia optimistis kombinasi antara pengerukan dan pompa akan menekan risiko banjir saat hujan deras tiba. “Kami tidak mau menunggu air naik dulu baru bertindak. Dengan amphibi dan pompa siaga, kita lebih siap,” tambahnya.
Langkah-langkah teknis itu mungkin tampak sederhana, tapi bagi masyarakat di sepanjang aliran Tukad Mati, setiap meter sedimen yang diangkat berarti harapan baru. Jalan yang tak lagi tergenang, rumah yang tak perlu waswas tiap hujan turun, dan wisatawan yang bisa tetap menikmati Bali tanpa gangguan.
Musim hujan mungkin tak bisa dihindari, tapi mitigasi bisa dilakukan dengan teknologi, kerja lapangan, dan kesigapan manusia di baliknya. “Semoga semuanya aman, tidak sampai ada banjir saat hujan deras,” ujar Gung Rama menutup percakapan. BWN-04

































