Berkaca Sebelum Terlambat, ‘Dasa Muka’ Sentil Manusia Modern di Panggung FSBJ VIII

Iklan Home Page

Denpasar, Baliwakenews.com


Di tengah derasnya arus modernitas, manusia kerap disibukkan oleh ambisi, pekerjaan, hingga kehidupan orang lain, namun justru lupa mengenali dirinya sendiri. Keresahan itu diterjemahkan secara artistik oleh Sanggar Kerta Art Ubud melalui pertunjukan teater tari modern “Dasa Muka: The Face of Humanity” pada ajang Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Kamis (16/7).

Sejak tirai dibuka, penonton langsung disuguhkan koreografi energik yang memadukan tari modern, kontemporer, balet, hingga atraksi wushu. Permainan tata cahaya, visual glow in the dark, serta komposisi musik yang mengawinkan unsur elektronik dengan nuansa Bali menghadirkan pengalaman teatrikal yang kuat dan emosional.

Terinspirasi dari tokoh Rahwana dalam epos Ramayana, karya ini tidak menempatkan sosok raksasa tersebut sebagai pusat cerita. Sebaliknya, Dasa Muka dimaknai sebagai simbol sepuluh wajah atau beragam sisi kemanusiaan yang hidup dalam setiap diri manusia.

Alur pertunjukan membawa penonton mengikuti perjalanan sukma yang mengembara melewati cinta dan luka, ambisi dan ketakutan, harapan dan kehilangan. Perjalanan itu menjadi metafora proses manusia mengenali, menerima, hingga melampaui ego demi menemukan cahaya dalam dirinya.

Baca Juga:  KKN-PMM Unwar 2024 Berdayakan Masyarakat Desa Batuaji

Pelatih sekaligus Ketua Harian Sanggar Kerta Art, Ni Komang Ayu Anantha Putri, mengatakan karya tersebut lahir dari refleksi kehidupan masyarakat modern yang dituntut terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, “wajah” dalam Dasa Muka bukan dimaknai sebagai sosok Rahwana secara harfiah, melainkan simbol berbagai emosi, karakter, dan sisi yang dimiliki setiap manusia.

“Tema yang kami angkat tentang Dasa Muka atau Rahwana. Inspirasinya dari banyak wajah, karena manusia sekarang harus cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan modernitas. Wajah-wajah itu menjadi simbol berbagai perasaan dan sisi yang dimiliki manusia,” ujarnya.

Pesan reflektif itu divisualisasikan melalui adegan puluhan penari yang membawa cermin ke atas panggung. Namun cermin tersebut tidak digunakan untuk melihat diri sendiri, melainkan saling dipertukarkan antarpenari.

Menurut Komang Ayu, adegan tersebut menjadi simbol bahwa manusia masa kini lebih sering menilai kehidupan orang lain dibandingkan bercermin dan mengevaluasi dirinya sendiri.

Baca Juga:  Buka Pesta Kesenian Bali XLVI , AHY: Menjadi Ruang Peneguhan Ekspresi dan Kampanye Pembangunan SDM

“Orang sekarang sibuk dengan pekerjaan, kehidupan, dan menilai orang lain, tetapi lupa bercermin pada dirinya sendiri. Karena itu ada bagian ketika para penari membawa cermin. Mereka saling berkaca pada cermin milik orang lain. Itu menjadi simbol bahwa kita sering melihat kehidupan orang lain, tetapi lupa mengenali diri sendiri,” jelasnya.

Pada bagian akhir pertunjukan, perjalanan batin itu bermuara pada penemuan “cahaya diri”, sebuah simbol bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk bangkit dan melampaui berbagai kelemahan dalam dirinya.

“Apa pun rintangannya, manusia harus ingat bahwa dirinya mampu. Kita terlalu sibuk menilai orang lain, padahal yang perlu lebih dulu diasah adalah diri sendiri,” katanya.

Untuk memperkuat penyampaian pesan, Sanggar Kerta Art mengemas pertunjukan dalam format teater tari modern yang dipadukan dengan storytelling. Seorang dalang hadir sebagai narator menggunakan bahasa Inggris agar alur cerita mudah dipahami penonton dari berbagai latar belakang, sementara identitas Bali tetap terasa melalui penggunaan sendon, gending, serta unsur musikal tradisional yang dikemas secara modern.

Baca Juga:  Rapat Banggar DPRD Bali, Usulan Insentif Perangkat Desa

Komang Ayu menambahkan, karya tersebut juga memadukan musik elektronik hasil kolaborasi dengan sejumlah musisi internasional, termasuk seniman asal San Francisco, Amerika Serikat. Kolaborasi itu merupakan bagian dari konsep Intercultural Performing Art yang diusung Sanggar Kerta Art sebagai upaya membangun dialog antara tradisi Bali dan seni pertunjukan modern.

Sebanyak lebih dari 30 penari dari berbagai kelompok usia terlibat dalam pementasan ini. Mereka berkolaborasi dengan Sinar Ballet Bali, Garuda Wushu Indonesia, Berlian TPW, Atheny Dewi, serta para performer muda Sanggar Kerta Art.

Perpaduan berbagai disiplin seni tersebut membuat setiap babak tampil dinamis sekaligus sarat makna. Di balik kemasan visual yang memukau, “Dasa Muka: The Face of Humanity” menghadirkan refleksi mendalam bahwa di tengah kehidupan yang semakin cepat, manusia tidak boleh kehilangan waktu untuk berkaca, mengenali diri, dan menemukan jati dirinya. BWN-05

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR