Mangupura, baliwakenews.com
Abrasi yang semakin menggerus pesisir Pantai Kuta membuat masyarakat berharap penanganan pantai segera kembali dilanjutkan. Terlebih, dampak abrasi kini mulai menyentuh aktivitas warga, termasuk area tempat berjualan para pedagang di sepanjang pantai.
Pertanyaan mengenai kelanjutan pengisian pasir pun mulai bermunculan. Proyek yang sebelumnya mendapat sambutan positif dari masyarakat tersebut sempat terhenti setelah kapal yang digunakan mengalami kerusakan akibat kondisi cuaca buruk.
Camat Kuta, I Made Agus Suantara, saat dihubungi, Minggu (23/8/2026), membenarkan adanya pertanyaan dari masyarakat terkait kelanjutan proyek tersebut. Menurutnya, warga sejak awal menyambut positif upaya penanganan abrasi melalui pengisian pasir karena kondisi Pantai Kuta dinilai sudah cukup mengkhawatirkan.
“Memang ada beberapa warga yang mempertanyakan kelanjutannya. Karena sejak awal masyarakat menyambut positif proyek ini, apalagi melihat abrasi di Pantai Kuta yang cukup parah,” ujarnya.
Agus mengatakan, pihak kecamatan sebelumnya telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS). Bahkan, sekitar tiga pekan lalu, pihak BWS datang ke Kantor Camat Kuta untuk meminta dukungan terkait kelanjutan penanganan abrasi.
Namun, metode pengisian pasir nantinya tidak lagi menggunakan pola sebelumnya. Jika sebelumnya pasir dialirkan dari kapal di tengah laut menuju pantai menggunakan pipa, pola tersebut tidak dapat dilanjutkan lantaran kapal mengalami kerusakan akibat cuaca buruk.
Sebagai gantinya, BWS merencanakan penggunaan dua kapal tongkang. Dengan metode tersebut, pasir dapat diangkut dan dilakukan pengisian langsung ke daratan sehingga tidak lagi membutuhkan pipa dari tengah laut.
“Polanya akan berbeda. Karena kapal yang sebelumnya digunakan tidak bisa dilanjutkan, rencananya menggunakan dua kapal tongkang yang bisa melakukan pengisian langsung ke darat,” jelasnya.
Kendati demikian, mendatangkan kapal tongkang ke Bali membutuhkan izin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Karena itu, dukungan pemerintah wilayah setempat menjadi bagian penting dalam proses persiapan kelanjutan proyek.
Agus mengatakan, pihak kecamatan telah memberikan dukungan yang diminta BWS. Ia berharap proses perizinan dan persiapan teknis dapat segera diselesaikan sehingga pengisian pasir kembali berjalan.
“Kami berharap dengan dukungan yang sudah diberikan, pengisian pasir bisa segera dilanjutkan. Sehingga tahapan berikutnya juga dapat berjalan,” katanya.
Penanganan abrasi Pantai Kuta sendiri tidak berhenti pada pengisian pasir. Setelah tahapan tersebut, direncanakan pembangunan dua unit breakwater tambahan di depan Kantor Satgas ke arah utara.
Pembangunan dua breakwater tersebut merupakan bagian dari usulan Desa Adat setempat. Usulan itu muncul seiring semakin parahnya abrasi yang terjadi di kawasan tersebut dan mulai memberikan dampak langsung terhadap masyarakat.
Abrasi bahkan disebut telah menggerus area tempat berjualan para pedagang di sekitar pantai. Kondisi tersebut membuat percepatan penanganan menjadi semakin penting, bukan hanya untuk mengurangi kerusakan pesisir, tetapi juga menjaga aktivitas masyarakat dan keberlanjutan Pantai Kuta sebagai salah satu destinasi wisata utama Bali.
Dengan pola pengisian pasir yang akan diubah dan rencana penambahan breakwater, masyarakat kini menunggu realisasi tahapan berikutnya agar abrasi yang terus menggerus Pantai Kuta tidak semakin meluas. BWN-04

































