Mangupura, baliwakenews.com
Kondisi abrasi di Pantai Kuta semakin mengkhawatirkan dengan dampak kerusakan yang kian meluas. Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana, mengungkapkan bahwa di sejumlah titik, pengikisan pantai bahkan mencapai skala serius hingga sekitar 10 meter.
Ia menyebutkan, salah satu lokasi terparah berada di depan Hotel Mercure. “Di sana abrasinya paling parah, kurang lebih mencapai sepuluh meter,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, abrasi tidak hanya menggerus garis pantai, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas di kawasan wisata internasional tersebut. Situasi ini menuntut penanganan yang berkelanjutan dan tidak bisa ditunda.
Berbagai upaya penanganan pun mulai dijalankan. Pemerintah Kabupaten Badung, kata dia, telah menyiapkan langkah seperti pengisian pasir untuk menahan laju abrasi, serta pembangunan tambahan breakwater atau pemecah gelombang. Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida juga telah melakukan peninjauan langsung sebagai bagian dari perencanaan teknis. “Breakwater tambahan tetap diupayakan, dan BWS sudah turun melakukan peninjauan,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, penataan kawasan Pantai Kuta tetap berjalan bertahap. Dinas PUPR Badung saat ini tengah memperbaiki infrastruktur pedestrian yang rusak akibat terjangan gelombang, guna menjaga kenyamanan wisatawan.
Selain itu, penataan juga menyasar aktivitas pedagang di kawasan pantai. Desa Adat Kuta telah melakukan sosialisasi kepada pedagang, khususnya yang telah lama beroperasi, dan ke depan akan diperkuat dengan pemberian tanda pengenal bagi pedagang resmi.
“Sosialisasi akan kami lakukan kembali, termasuk pemberian identitas bagi pedagang resmi,” tegasnya.
Ia berharap, penanganan abrasi yang terus berjalan dengan dukungan berbagai pihak dapat segera memulihkan kondisi Pantai Kuta, sehingga tetap terjaga sebagai destinasi unggulan yang tertata dan nyaman bagi wisatawan. BWN-04
































