Abrasi Kembali Menggigit Pantai Kuta Alarm Sunyi di Jantung Pariwisata Bali

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com


Pagi itu, garis Pantai Kuta tak lagi seramah biasanya. Hamparan pasir yang selama ini menjadi ruang bermain wisatawan dan pedagang pantai tampak menyempit, seolah ditarik perlahan oleh laut. Di depan Kantor Satgas Pantai Kuta, abrasi meninggalkan jejak nyata: pasir terkikis lebih dari satu meter, menyisakan bibir pantai yang kini hanya berjarak beberapa langkah dari jalur pejalan kaki.


Abrasi yang kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir ini bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ia menjadi pengingat sunyi bahwa Pantai Kuta ikon pariwisata Bali yang telah puluhan tahun menopang ekonomi warga masih rapuh menghadapi amukan gelombang, terutama saat musim angin barat tiba.
Cuaca ekstrem yang disertai hujan lebat dan gelombang tinggi sejak tiga hari terakhir membuat struktur pasir menjadi labil. Air laut dengan mudah menggerus daratan, memaksa sejumlah pedagang pantai di sekitar lokasi untuk mengemasi lapak mereka dan berpindah sementara ke tempat yang lebih aman. Aktivitas wisata pun ikut terpengaruh, meski Pantai Kuta tetap ramai dikunjungi.

Baca Juga:  Sekda Adi Arnawa Hadiri Upacara Puncak Karya Panca Wali Krama di Pura Luhur Uluwatu


“Pasir tergerus cukup dalam dan kondisinya tidak aman,” ujar Pengelola DTW Pantai Kuta, I Nyoman Arya Arimbawa, Selasa (27/1/2026). Ia menuturkan, abrasi kali ini bahkan sempat berdampak pada instalasi milik DSDP yang berada tak jauh dari bibir pantai.


Respons cepat pun dilakukan. Alat berat milik Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida diturunkan untuk melakukan penanganan darurat. Batu-batu besar dipasang, pasir diurug kembali, sebuah upaya menahan laju abrasi agar tidak semakin mendekati fasilitas umum. Namun semua pihak sadar, langkah ini hanyalah solusi sementara.


“Penguatan ini sifatnya darurat, agar bibir pantai tidak terus tergerus. Ke depan tetap diperlukan pembangunan revetment yang lebih kuat dan permanen,” kata Arya Arimbawa.

Baca Juga:  Novi Merampok SPBU Karena Terdesak Kebutuhan Hidup


Bagi warga dan Desa Adat Kuta, abrasi bukan cerita baru. Fenomena ini hampir selalu datang setiap musim hujan. Pasir yang ditata rapi saat musim kemarau kerap kembali hilang ketika gelombang tinggi datang. Bahkan beberapa bulan lalu, abrasi menyebabkan hanyutnya salah satu palinggih di kawasan Pantai Kuta, sebuah peristiwa yang meninggalkan duka sekaligus keprihatinan. Upacara nuntun pun telah dilakukan, dan palinggih dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.


Kejadian demi kejadian itu membuat Desa Adat Kuta kian lantang mendorong penanganan abrasi yang menyeluruh dan berbasis kajian teknis jangka panjang. Usulan pembangunan revetment hingga ke depan Pos Balawista Pantai Kuta telah disetujui pemerintah pusat dan kini dinanti realisasinya.

Baca Juga:  Bupati Giri Prasta Hadiri HUT Ke-41 ST. Tri Eka Dharma Shanti Br. Tangkeban Cemagi


“Selain di depan Satgas, abrasi juga cukup parah terjadi di depan Hotel Kuta Sea View. Ini menunjukkan bahwa penanganan tidak bisa parsial,” ujarnya.


Pantai Kuta bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang hidup, sumber penghidupan, dan simbol Bali di mata dunia. Setiap meter pasir yang hilang bukan hanya soal bentang alam, tetapi juga tentang masa depan pariwisata dan keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitarnya.


Kini, harapan tertambat pada langkah nyata pemerintah untuk mempercepat proyek pengamanan pantai dan menyesuaikan pembangunan breakwater dengan kondisi lapangan. Agar Pantai Kuta tak terus tergerus, dan keindahannya tetap lestari untuk generasi mendatang. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR