Tabanan, baliwakenews.com
Kasus kebakaran di Kabupaten Tabanan mencapai 95 kejadian sepanjang Januari hingga 22 September 2026. Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan cukup tajam memasuki pertengahan tahun, dimana pada bulan Agustus saja tercatat 27 kasus.
Kepala Bidang Penanggulangan Kebakaran Satpol PP Kabupaten Tabanan, I Wayan Suakta mengatakan puluhan kasus tersebut terjadi di berbagai wilayah dengan objek yang terbakar beragam, mulai dari lahan, ilalang, sampah, rumah, kandang ayam hingga bangunan lainnya.
“Dari data yang kami catat sampai 22 September 2026, total ada 95 kejadian kebakaran di berbagai kecamatan,” ujar Suakta saat diwawancarai, Jumat (2/10/2026).
Data Satpol PP Tabanan menunjukkan kasus kebakaran pada awal tahun relatif rendah. Di bulan Januari tercatat tiga kejadian, Februari lima kejadian, Maret tiga kejadian dan April hanya dua kejadian.
Memasuki bulan Mei, jumlah kasus mulai meningkat menjadi tujuh kejadian. Angka tersebut kembali naik pada Juni dengan 12 kejadian, kemudian melonjak menjadi 19 pada Juli.
“Kemudian pada Agustus ada 27 kejadian,” imbuhnya.
Sementara hingga 22 September 2026, sudah tercatat 17 kejadian kebakaran. Dengan demikian, hanya dalam tiga bulan, yakni Juli hingga September, jumlah kejadian mencapai 63 kasus atau sekitar dua pertiga dari total kasus sepanjang periode tersebut.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, Kecamatan Kediri menjadi daerah dengan kasus kebakaran terbanyak, yakni mencapai 40 kejadian. Disusul Kecamatan Tabanan sebanyak 21 kejadian dan Kerambitan sembilan kejadian.
Selanjutnya, Kecamatan Marga dan Penebel masing-masing mencatat enam kejadian, Baturiti lima kejadian, Pupuan empat kejadian, serta Selemadeg Timur dan Selemadeg Barat masing-masing dua kejadian.
Dari sisi objek, ilalang menjadi salah satu yang paling banyak terbakar dengan 20 kejadian. Kebakaran sampah tercatat 11 kejadian, rumah sembilan kejadian, sedangkan lahan kosong dan gerombong genteng masing-masing enam kejadian.
Untuk penyebab kebakaran, Suakta mengatakan sebagian kasus masih belum diketahui dan dalam proses penyelidikan. Namun, sejumlah kejadian diketahui berkaitan dengan aktivitas manusia maupun gangguan teknis.
“Penyebabnya beragam. Ada yang masih dalam penyelidikan, ada juga yang sudah diketahui seperti korsleting, pembakaran sampah, pembakaran genteng dan kebocoran tabung gas,” jelasnya.
Melihat tingginya kasus kebakaran dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan. Terutama saat melakukan aktivitas yang melibatkan api. Kondisi lingkungan yang kering juga dapat mempercepat rambatan api, terutama pada kebakaran lahan dan ilalang.
Suakta mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kejadian kebakaran sehingga petugas dapat melakukan penanganan lebih cepat. BWN-06
































