Denpasar, Baliwakenews.com
Upaya mengembangkan bawang putih yang benar-benar cocok ditanam di Bali memasuki tahap penting. Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali kembali menguji adaptasi sejumlah varietas bawang putih pada 2026.
Ketua Peneliti, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si., mengatakan penelitian ini merupakan tahun kedua dari rangkaian kerja sama yang telah dimulai sejak 2025. Pengujian berkelanjutan tersebut diarahkan untuk menemukan varietas bawang putih yang tidak hanya mampu tumbuh, tetapi juga menghasilkan umbi dengan produktivitas dan kualitas yang layak dikembangkan secara lebih luas.
Langkah ini dinilai penting karena keberhasilan budidaya bawang putih tidak cukup hanya melihat apakah tanaman dapat hidup di suatu wilayah. Faktor varietas, suhu, kelembapan, musim tanam, intensitas cahaya, kondisi tanah, ketersediaan air hingga teknik budidaya ikut menentukan pembentukan dan kualitas umbi.
Karena itu, tim peneliti FPST Universitas Warmadewa bersama BRIDA Bali melakukan pengujian secara bertahap dengan mengamati berbagai aspek pertumbuhan tanaman.
“Pengamatan meliputi pertumbuhan dan karakter morfologi tanaman, pembentukan serta perkembangan umbi, hasil produksi, hingga respons tanaman terhadap kondisi lingkungan dan teknologi budidaya yang diterapkan, ” ungkapnya.
Dari pengujian tersebut, peneliti berupaya mendapatkan gambaran lebih lengkap mengenai hubungan antara varietas dan lingkungan. Dengan demikian, hasil penelitian nantinya tidak berhenti pada kesimpulan bahwa suatu varietas bisa tumbuh di Bali, tetapi juga menjawab pertanyaan yang lebih penting: apakah varietas tersebut mampu menghasilkan bawang putih yang produktif dan memiliki nilai ekonomi?
Lebih lanjut Bagus Udayana, mengatakan penelitian berkelanjutan diperlukan agar pengembangan bawang putih di Bali memiliki pijakan ilmiah yang kuat.
“Penelitian ini kami bangun secara bertahap. Tahun pertama menjadi dasar untuk memperoleh informasi awal mengenai respons tanaman. Tahun kedua diarahkan untuk memperkuat pengujian adaptasi dan memperoleh data yang lebih konsisten,” ujar Udayana.
Menurutnya, hasil dari tahapan penelitian tersebut selanjutnya akan menjadi dasar untuk menentukan materi terbaik yang dapat dikembangkan pada penelitian berikutnya.
Udayana menegaskan, keberhasilan riset tidak semata-mata diukur dari tersusunnya laporan maupun banyaknya data yang diperoleh. Yang lebih penting, hasil penelitian memiliki peluang untuk diterapkan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi petani.
“Teknologi yang dihasilkan perlu realistis, sesuai dengan kondisi lingkungan setempat, dapat diterapkan di tingkat lapangan, serta memiliki prospek ekonomi,” tegasnya.
Dengan memasuki tahun kedua, penelitian bawang putih ini diharapkan semakin mempersempit pilihan varietas yang potensial dikembangkan di Bali. Data yang diperoleh juga menjadi bagian penting dalam membangun basis ilmiah sebelum pengembangan dilakukan pada skala yang lebih luas.
Bagi Bali, riset tersebut bukan sekadar mencari tanaman yang mampu bertahan hidup. Tantangan sebenarnya adalah menemukan varietas yang mampu beradaptasi, menghasilkan umbi berkualitas, produktif, dan pada akhirnya layak secara ekonomi bagi petani. BWN-03
































