Mangupura, baliwakenews.com
Laut selatan Bali perlu diwaspadai dalam beberapa hari ke depan. Monsun Australia yang masih kuat diprakirakan memicu gelombang tinggi hingga 6 meter di sejumlah perairan Bali, meski kondisi cuaca daratan secara umum cenderung cerah berawan.
Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III, Wulan Wandarana, mengatakan masyarakat tidak sepatutnya terkecoh dengan kondisi langit yang relatif bersahabat. Aktivitas Monsun Australia justru memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap kondisi laut. “Angin yang melewati perairan samudera yang luas sehingga dapat berdampak terhadap ketinggian gelombang,” ujar Wulan, Jumat (21/8).
Monsun Australia merupakan pola angin yang bergerak dari wilayah Australia menuju Asia dengan melintasi wilayah Indonesia, termasuk Bali. Dalam perjalanannya, massa udara tersebut melewati perairan yang luas sehingga berkontribusi terhadap peningkatan tinggi gelombang.
Dampak paling signifikan diprakirakan terjadi di perairan selatan Bali. Gelombang setinggi 4 hingga 6 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian selatan dan perairan selatan Pulau Bali. Sementara gelombang dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi di Selat Badung dan Selat Bali bagian selatan. Kecepatan angin maksimum di sejumlah wilayah tersebut dapat mencapai 25 knot.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik Monsun Australia yang masih dominan selama musim kemarau. BMKG menyebut pola angin ini diprakirakan masih memengaruhi wilayah Indonesia hingga sekitar Oktober. Memasuki November, pola angin mulai berubah seiring masuknya masa peralihan menuju musim hujan. Pada periode tersebut, pengaruh Monsun Asia mulai muncul.
BMKG mengingatkan kondisi laut ini menjadi perhatian khusus bagi nelayan, pelaku wisata bahari, maupun masyarakat yang melakukan aktivitas pelayaran. Tinggi gelombang yang mencapai beberapa meter berpotensi membahayakan aktivitas di laut. “Masyarakat umum, nelayan dan pelaku kegiatan wisata bahari mewaspadai tinggi gelombang yang dapat mencapai 2 meter atau lebih di Selat Badung, Selat Bali bagian selatan, Selat Lombok bagian selatan, dan perairan selatan Bali,” kata Wulan.
Masyarakat yang hendak beraktivitas di laut juga diminta tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca yang terlihat secara langsung. Informasi mengenai perkembangan angin dan gelombang perlu menjadi pertimbangan sebelum melakukan pelayaran maupun kegiatan wisata bahari.
BMKG mengimbau masyarakat rutin memperbarui informasi resmi, terutama terkait peringatan dini cuaca dan iklim ekstrem, selama pengaruh Monsun Australia masih berlangsung. BWN-04

































