Denpasar, Baliwakenews.com
Oleh : I K. Eriadi Ariana
Air bukan semata unsur purba yang telah menghidupi manusia selama ratusan milenium silam. Sejak ditakdirkan rantai evolusi menjadi makhluk paling dominan di dunia ini, air telah memainkan perannya. Air bertanggung jawab atas terbentuknya identitas komunal, ideologi, hingga jejaring kekerabatan antarkomunitas.
Relasi kultural yang bersumber pada aliran air satu di antaranya tampak pada hubungan masyarakat adat Tejakula dengan masyarakat adat Batur. Apabila diukur menurut posisi geografis, keduanya mewakili geografis berbeda di Pulau Bali, di mana Desa Adat Tejakula terletak di pesisir Pantai Utara Bali, sedangkan Desa Adat Batur terletak di Pegunungan Kintamani. Pun, ketika dilihat menurut batas administratif, kedua akan tampak berjarak, di mana Tejakula terletak di wilayah administratif Kabupaten Buleleng, sementara Batur masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Bangli.
Namun demikian, posisi yang seolah jauh itu pada akhirnya diikat oleh aliran air. Pada ritual Ngusaba Kadasa tahun 2026 yang lalu, ratusan masyarakat adat Tejakula berjalan melawan takdir air. Mereka mendaki jalan berkelok yang membelah Pegunungan Kintamani untuk menghadiri ritual tahunan dan terbesar di Pura Ulun Danu Batur. Simbol-simbol budaya diusung untuk membuktikan kekerabatan kedua belah pihak, misalnya tapakan linggih dan benda-benda sakral lainnya. Beberapa barungan gong dan tari sakral pun dipentaskan di pelataran “pura air” di hulu Pulau Dewata.
Kedatangan Desa Adat Tejakula adalah rangkaian ritus 10 tahunan yang sakral. Tiap 10 tahun, masyarakat Desa Tejakula memiliki tanggungjawab spiritual-kultural mempersembahkan seekor kerbau sebagai persembahan ke hadapan Ida Bhatari Dewi Danuh, entitas yang dipuja atas keberlimpahan air di Pura Ulun Danu Batur. Praktik kultural ini didasarkann pada beragam informasi, baik yang diingat secara kolektif maupun dicatat sebagai ketetapan di kedua belah pihak, misalnya pada cerita lisan (mitos) Ida Ratu Ayu Mas Membah; konsep teologis 11 buka air Danau Batur; guratan pada prasasti era Dinasti Bali Kuno; Rajapurana Batur; dan situs (palinggih) Ida Ratu Mutering Jagat.
Pertama, berdasarkan catatan tradisi lisan, yakni pada mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah, Desa Adat Tejakula adalah salah satu desa di Denbukit yang menerima “anugerah pembebasan” Ida Bhatari Sakti Batur. Anugerah ini diberikan oleh Ida Bhatari Batur Sakti dalam gelarnya sebagai Ida Ratu Ayu Mas Membah.
Menurut mitos tersebut, dikisahkan bahwa beberapa saat setelah tiba di Bali, Ida Bhatari Batur diberikan anugerah Tirta Mas Mampeh oleh ayahandanya, Ida Bhatara Guru. Tirta Mas Mampeh adalah tirta yang secara rohani diperuntukkan sebagai tirta amreta (air suci kehidupan), yang wajib dialirkan ke seluruh Pulau Bali untuk mengairi pertanian.
Tirta Mas Mampeh dilemparkan dari Tirta Empul dengan wadah seruas sujang (ruas bambu), kemudian diterima menggunakan tangan kiri oleh Ida Bhatari Batur. Setelah itu, sujang ditancapkan di sebelah barat Gunung Batur dan kini dikenal sebagai Tirta Mas Mampeh.
Sejalan dengan perintah Ida Bhatara Guru, beberapa saat kemudian Ida Bhatari Batur mengupayakan langkah untuk menyebarkan air suci Tirta Mas Mampeh ke desa-desa di seluruh Bali. Agar menjaga kemuliaan air yang akan dibagikan ke desa-desa, Ida Bhatari Batur memutuskan untuk menjualnya kepada penduduk yang ditemui. Wujud Ida Bhatari yang awalnya cantik jelita diubah menjadi orang tua yang ringkih dan penyakitan.
Air Tirta Mas Mampeh dimasukkan ke dalam labu botol, kemudian dijual ke desa-desa dari kawasan timur (Tianyar) mengikuti pesisir menuju ke utara hingga barat. Perjalanan itu melalui desa-desa seperti di Desa Munti Gunung; Baturinggit dan sempat beristirahat di Pura Gerombong; Sambirenteng dan sempat beristirahat di Pura Pegonjongan; Panjingan (kini Desa Les); hingga ke Kubutambahan dan Sangsit.
Setelah melewati Desa Panjingan, Ida Bhatari Batur bertemu dengan penduduk Desa Hiliran yang merupakan penduduk buangan dari Desa Sukawana. Penduduk di daerah tersebut berkenan membeli air milik Ida Bhatari Batur seharga dua kepeng uang.
Atas apresiasi dan penghormatan penduduk setempat, Ida Bhatari Batur berkenan dan memberi anugerah membebaskan penduduk setempat. Sejak peristiwa itu, nama desa Hiliran diubah menjadi Tejakula, yang merupakan gabungan dua kata, yakni teja yang berarti ‘sinar’ dan kula yang berarti ‘penduduk’. Selain itu, di daerah tempat Ida Bhatari Batur memberikan anugerah pembebasan itu selanjutnya disebut dengan nama Banjar Batur.
Sejak menerima anugerah pembebasan Ida Bhatari Batur, penduduk Tejakula lantas berjanji akan selalu mempersembahkan uang sejumlah dua kepeng serta atos pada saat Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur (lihat Duija, 2009; Ariana, 2022).
Kedua, menurut tradisi lisan yang diwarisi masyarakat adat Batur, Kaldera Batur merupakan tetamanan (yoni) Ida Bhatari Batur. Kawasan Kaldera memiliki 11 air suci (tirta) utama yang menyebar di sejumlah titik. Dari sebelas tirta tersebut, sembilan di antaranya terletak di kawasan Danau Batur yang disebut sebagai tirta trebesan danu. Sembilan tirta tersebut antara lain Tirta Bantang Anyud, Tirta Telaga Waja, Tirta Danu Gadang, Tirta Danu Kuning, Tirta Pelisan, Tirta Mangening, Tirta Pura Jati, Tirta Rejeng Anyar, dan Tirta Mas Bungkah. Sementara itu, dua tirta lainnya adalah Tirta Mas Mampeh yang merupakan tirta trebesan, serta Tirta Prapen Pingit yang merupakan tirta pawaka (tirta panas bumi).
Tirta-tirta trebesan danu diyakini mengalir ke berbagai sumber mata air di berbagai tempat, baik di sebelah selatan gunung (Delod Bukit) maupun utara gunung (Denbukit). Adapun Tirta Rejeng Anyar diyakini mengalir ke daerah Denbukit, sebagai sumber dari mata air dan sungai yang ada desa-desa di kawasan Tianyar dan Tejakula. Aliran air inilah yang secara kultural membangun ikatan hidro-kultural antara masyarakat di kawasan hulu dengan di kawasan hilir.
Ketiga, hubungan antara Desa Tejakula dengan Batur juga dapat dijejak melalui sejumlah catatan prasasti dari era Bali Kuno. Salah yang dapat ditilik dalam kasus ini adalah Prasasti Kintamani D. Prasasti ini mengatur aktivitas perdagangan, khususnya kapas, antara masyarakat Wingkang Ranu dengan Desa Les, Paminggir, Buhundalem, Julah, Purwasidhi, Indrapura, Bulihan, dan Manasa. Desa Paminggir diduga merupakan nama lain (nama arkais?) dari Desa Tejakula selain Hiliran (lihat Goris, 1954; Kamajaya, 2025).
Masyarakat Batur meyakini bahwa Desa Batur merupakan evolusi dari Desa Tampurhyang yang identik dengan Tumpuhyang yang muncul pada sejumlah prasasti dari era Bali Kuno. Desa ini pada masa kuno tampaknya berada di kawasan tepi Danau Batur, utamanya di kawasan timur hingga tenggara Gunung Batur, di sekitar kawasan Toya Bungkah s.d. Seked saat ini. Oleh karena itulah, catatan pada prasasti tersebut bisa menjadi referensi dalam menjejak kekerabatan dan jaringan kultural di antara kedua desa ini.
Keempat kita bisa menengok Rajapurana Pura Ulun Danu Batur. Rajapurana Pura Ulun Danu Batur merupakan kelompok lontar yang sangat disucikan oleh masyarakat adat Batur. Naskah yang terdiri atas 13 cakep lontar ini kini disimpan di Pura Ulun Danu Batur. Lontar-lontar tersebut adalah dasar filosofi pelaksanaan ritual dan kultural masyarakat adat Batur.
Menurut Rajapurana Pura Ulun Danu Batur pada cakep lontar Babad Patisora lembar 34b, Desa Heliran [Hiliran?] memiliki tanggung jawab persembahan sawinih (sarin tahun) berupa 2 pikul beras, sepikul tuak/arak, sepikul komak, seekor babi seharga 500, dan sepasang ayam (peling wong desa heliran, kna beras rongnanggung, sajeng atanggung, komak atanggung, bawi aji 500, ayam akembaran ‘pengingat masyarakat Desa Heliran dikenai beras dua pikul, tuak sepikul, komak sepikul, babi seharga 500, dan sepasang ayam’).
Desa Hiliran menurut catatan ini kemungkinan besar adalah nama arkais dari Tejakula. Catatan ini juga identik dengan laku kultural masyarakat Tejakula saat ini yang mempersembahkan atos dengan wewalungan babi (tiap tahun) atau kerbau (tiap 10 tahun). Persembahan atos tersebut dilakukan beriringan memohon tirta sawinih ritatkala Ngusaba Kadasa.
Kelima, hubungan ini dapat ditelusuri melalui keberadaan sebuah palinggih meru di Pura Ulun Danu Batur. Berdasarkan tatanan teologi yang diwariskan di Desa Adat Batur terdapat ratusan palinggih pemuliaan manifestasi Ida Bhatari Batur. Beberapa di antaranya adalah sungsungan dari puri, desa, maupun komunitas adat lain di seluruh Bali.
Salah satu palinggih penting dalam tatanan teologi Batur adalah Palinggih Meru Tumpang Tiga yang terletak di Utamaning Utama Mandala Pura Ulun Danu Batur. Meru ini adalah setana dari entitas Ida Bhatara yang bergelar Ida I Ratu Mutering Jagat. Adapun hari pemuliaannya (pujawali) jatuh setiap Purnama Kalima, bersamaan dengan pujawali Ida I Ratu Ayu Kentel Gumi dan Ida Ratu Ayu Salukat. Palinggih Meru Tumpang Tiga Linggih Ida Ratu Mutering Jagat ini secara tradisional merupakan sungsungan dan amongan Desa Adat Tejakula.
Siapa entitas dewa bergelar Ida I Ratu Mutering Jagat? Perlu diskusi yang intensif untuk mengetahui siapa entitas tersebut. Asumsi yang paling dekat untuk mengetahuinya bisa dimulai dengan kembali ke mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah. Pada mitos tersebut, Bhatari Batur telah berkeliling ke desa-desa untuk “menyebar kehidupan”. Apakah perjalanan menyebarkan aliran air dan napas kehidupan itu selanjutnya diabadikan dalam gelar Ida I Ratu Mutering Jagat [beliau yang mulia yang mengelilingi dunia]? Kita perlu berhenti sejenak untuk menjawabnya.

































