Mangupura, baliwakenews.com
Pantai di depan Hotel Merusaka Nusa Dua dipenuhi tawa dan semangat ratusan anak pada Jumat (17/7/2026) sore. Bukan sekadar bermain di pantai, mereka mendapat pengalaman berharga dengan ikut melepas ratusan tukik ke laut dalam kegiatan konservasi yang menjadi rangkaian peringatan Hari Anak Nasional.
Yang membuat kegiatan ini istimewa, pelepasan tukik tidak hanya melibatkan anak-anak Indonesia dan wisatawan mancanegara, tetapi juga anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka mendapat kesempatan yang sama untuk berinteraksi langsung dengan alam sekaligus belajar mencintai lingkungan sejak usia dini.
Anak-anak tampak antusias menunggu giliran, sementara orang tua mengabadikan momen berharga tersebut dengan telepon genggam. Hamparan pasir putih dan birunya laut Nusa Dua menjadi latar kebersamaan yang penuh makna. Sebelum menuju bibir pantai, peserta mengambil pin sebagai tanda keikutsertaan, kemudian menerima wadah berbentuk mangkuk dari daun yang digunakan untuk membawa tukik.
Dengan penuh rasa penasaran, anak-anak menggenggam wadah berisi tukik sambil menunggu aba-aba. Saat hitungan satu hingga tiga dikumandangkan, ratusan tangan kecil serempak meletakkan tukik di atas pasir. Mereka kemudian menyaksikan dengan takjub bagaimana anak-anak penyu itu merayap perlahan menuju ombak hingga akhirnya menghilang di lautan.
Sorak sorai dan tepuk tangan pun pecah ketika tukik berhasil mencapai air laut. Banyak anak yang terus memperhatikan perjalanan tukik hingga benar-benar berenang ke habitat alaminya. Pengalaman sederhana tersebut menjadi pelajaran nyata bahwa setiap makhluk hidup perlu dijaga kelestariannya.
Keceriaan dirasakan Malik dan Salya, dua remaja asal Bandung yang sedang berlibur di Bali bersama keluarganya. Mereka mengaku baru pertama kali mengikuti pelepasan tukik dan merasa mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan.
Antusiasme juga datang dari wisatawan mancanegara. Stephani, wisatawan asal Australia, mengaku senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan konservasi yang digelar Hotel Merusaka bekerja sama dengan Balaram Mangrove – Pulau Pudut Tanjung Benoa dan Yayasan Kolewa Bali.
Menurutnya, melibatkan anak-anak dalam kegiatan konservasi merupakan cara efektif untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak dini sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang mencintai alam. “Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan sehingga habitat penyu tetap ada dan lestari,” katanya.
Salah seorang peserta berkebutuhan khusus, Neymart, mengaku sangat senang bisa mengikuti kegiatan itu. Siswa kelas 2 tersebut berharap seluruh tukik yang dilepas dapat tumbuh sehat hingga dewasa. “Semoga nanti kura-kuranya makan yang banyak, jadi besar dan tumbuh sehat,” ujarnya polos.
Selain menjadi daya tarik wisata edukatif, kegiatan ini juga menjadi media untuk memperkenalkan pentingnya pelestarian penyu yang saat ini masih menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kerusakan habitat, pencemaran laut hingga aktivitas manusia. BWN-04

































