Mangupura, baliwakenews.com
Di tengah persoalan sampah yang terus menjadi tantangan di Bali, seorang warga di kawasan Kampial, Kuta Selatan (Kutsel), justru memilih memulai perubahan dari halaman rumahnya sendiri. Made Astika atau yang akrab disapa “Pekak Aris” menjalankan konsep sederhana mengolah sampah rumah tangga tanpa ribet dan tanpa tekanan, hingga perlahan menjadi kebiasaan keluarga.
Bagi Pekak Aris, sampah organik seperti sisa canang, daun kering hingga limbah dapur bukan lagi barang buangan. Semua itu justru dimanfaatkan kembali untuk membantu mengurai sampah berikutnya. Konsep tersebut ia sebut sebagai “mengolah sampah dengan sampah”.
Cara itu sudah dijalankannya sejak tahun 2016, jauh sebelum isu pengelolaan sampah menjadi perhatian serius seperti sekarang. Kakek satu cucu dan dua anak yang juga menjabat sebagai Ketua LPD Desa Adat Bualu ini mengaku, semua berawal dari keresahannya melihat persoalan sampah rumah tangga, terutama di lingkungan perumahan dengan lahan terbatas.
“Karena tinggal di perumahan, lahan terbatas. Akhirnya saya berpikir bagaimana caranya mengurangi volume sampah dari rumah sendiri,” ujar Pekak Aris, Selasa (19/5/2026).
Dari keresahan itu, pria kelahiran tahun 1968 tersebut mulai memilah sampah organik dan anorganik, lalu mencoba berbagai metode pengolahan. Mulai dari budidaya maggot hingga sistem kompos rumah tangga.
Namun seiring waktu, ia menemukan pola yang dianggap paling sederhana dan berkelanjutan, yakni memanfaatkan hasil pengolahan sampah sebagai media pengurai untuk sampah berikutnya.
Menurut Pekak Aris, inti pengelolaan sampah bukan sekadar menghasilkan kompos, melainkan menciptakan “biang kompos” yang mengandung mikroorganisme alami pengurai. Mikroorganisme itu kemudian dipakai terus-menerus untuk menghancurkan sampah organik baru.
“Jadi hasil dari pengolahan sampah dipakai lagi untuk mengolah sampah berikutnya. Itu yang saya lakukan sampai sekarang,” katanya.
Menariknya, seluruh proses itu dilakukan tanpa pendekatan yang kaku. Ia justru menerapkan pola kebiasaan alami dalam keluarga agar pengolahan sampah tidak terasa sebagai kewajiban berat.
“Kalau dilakukan dengan sadar terus, orang bisa merasa terbebani. Tapi kalau menjadi kebiasaan tanpa disadari, itu justru lebih mudah dijalankan,” ungkapnya.
Di rumahnya, aktivitas memilah sampah sudah menjadi rutinitas harian. Sisa makanan, bekas upacara, daun-daun kering hingga limbah dapur dikumpulkan agar tidak menimbulkan lalat maupun bau. Sampah kemudian dicacah bersama anak dan cucunya sebelum diproses sekitar enam minggu hingga menjadi kompos.
Kompos hasil olahan itu juga dimanfaatkan untuk tanaman bunga dan buah di halaman rumah. Bahkan kini ia tidak lagi membeli pupuk organik dari luar karena seluruh kebutuhan sudah dihasilkan sendiri.
Untuk menghilangkan bau dan mempercepat proses penguraian, Pekak Aris juga memanfaatkan cairan alami dari ampas kopi, buah-buahan dan nasi sisa. Ampas kopi cukup dicampur air lalu digunakan sebagai peredam bau. Sementara campuran buah sisa, nasi dan gula merah difermentasi beberapa minggu sebelum digunakan menyiram kompos agar bau busuk tidak keluar.
“Jadi pagi-pagi sehabis ngopi, sisanya saya taruh di sini. Artinya dari alam semua untuk alam, semua alami,” ucapnya.
Perjalanan panjang mengolah sampah itu juga membuatnya aktif berkolaborasi dengan komunitas pengelola sampah lainnya. Saat pandemi Covid-19 misalnya, ia melihat momentum berkurangnya aktivitas masyarakat dan penggunaan plastik sebagai peluang untuk semakin mengedukasi pengurangan sampah rumah tangga.
Kebiasaan tersebut juga dibawanya ke lingkungan kerja. Sebagai Ketua LPD Desa Adat Bualu, Pekak Aris mulai menerapkan pengelolaan sampah di kantor sebagai contoh sederhana bahwa instansi pun dapat ikut berkontribusi dalam pengurangan sampah berbasis sumber.
“Ilmu yang diterapkan di rumah juga saya coba di kantor. Saya ingin LPD bisa memberi contoh dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.
Bagi Pekak Aris aktivitas mengolah sampah bahkan sudah menjadi bagian dari olahraga harian. Sepulang kerja, ia rutin mengurus kompos sambil bergerak aktif di halaman rumah. BWN-04


































