Denpasar, Baliwakenews.com
Pasar properti residensial di Bali mulai menunjukkan perlambatan pada awal 2026. Di tengah kenaikan biaya konstruksi dan tekanan ekonomi global, pertumbuhan harga rumah di Bali tercatat tidak seagresif periode sebelumnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Bali, Achris Sarwani dalam keterangannya Rabu 20 Mei 2026 mengatakan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada Triwulan I 2026 hanya tumbuh 0,87 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini melambat dibanding Triwulan IV 2025 yang mencapai 1,06 persen.
“Meski melambat, kenaikan harga masih terjadi di seluruh segmen rumah. Properti kecil dengan luas bangunan di bawah 36 meter persegi naik 1,16 persen. Sementara rumah tipe menengah tumbuh 0,97 persen dan rumah besar naik 0,71 persen,” ungkapnya.
Kenaikan harga properti dipicu lonjakan biaya pembangunan yang terus membebani pengembang. Mayoritas responden survei menyebut harga bahan bangunan dan kenaikan upah tenaga kerja menjadi faktor utama penyebab mahalnya harga rumah di Bali.
Situasi geopolitik global juga ikut memberi tekanan. Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada biaya distribusi material bangunan. Di saat bersamaan, pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga bahan bangunan impor semakin mahal.
Namun di balik kenaikan harga properti, para developer justru menghadapi tantangan besar dalam menjaga penjualan tetap tumbuh.
“Tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), keterbatasan lahan, tingginya pajak, hingga besarnya uang muka pembelian rumah menjadi hambatan utama sektor properti residensial di Bali saat ini,” ujarnya.
Dari sisi pembiayaan proyek, mayoritas pembangunan properti di Bali masih mengandalkan modal internal developer dengan porsi mencapai 56,6 persen. Sementara pembiayaan dari pinjaman bank sebesar 35,3 persen, dana konsumen 5,9 persen, dan lembaga keuangan nonbank 2,2 persen.
Di sisi konsumen, skema KPR masih mendominasi pembelian rumah di Bali dengan porsi mencapai 84,2 persen dari total transaksi pembiayaan rumah.
“Kondisi ini menunjukkan pasar properti Bali masih bertahan, namun mulai menghadapi tekanan serius dari sisi daya beli masyarakat dan tingginya biaya pengembangan proyek,” pungkas Achris. BWN-03


































