Mangupura, Baliwakenews.com
Lonjakan kunjungan wisatawan ke kawasan unggulan Kabupaten Badung seperti Kuta, Legian, dan Seminyak ternyata belum diimbangi dengan penyediaan fasilitas dasar kebersihan yang memadai. Minimnya ketersediaan tempat sampah atau tongbin di ruang publik dinilai menjadi persoalan mendasar yang memperlambat penanganan sampah di jantung pariwisata Bali tersebut.
Anggota Komisi I DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara, saat dihubungi Selasa (7/4) menegaskan persoalan sampah di Badung memiliki karakteristik berbeda dibandingkan daerah lain, terutama wilayah pedesaan. Tingginya aktivitas pariwisata menyebabkan volume sampah yang dihasilkan jauh lebih besar dan kompleks.
“Dengan banyaknya kunjungan wisatawan, tentu menghasilkan volume sampah yang sangat besar, dan ini belum sepenuhnya terkelola dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, Badung menghadapi tekanan ganda dalam pengelolaan sampah. Selain sampah dari aktivitas wisatawan, wilayah pesisir selatan juga rutin menerima sampah kiriman saat musim angin barat. Pada puncak musim, volume sampah kiriman bahkan bisa mencapai 200 ton per hari, sementara dalam kondisi normal berkisar 40 hingga 45 ton per hari.
Tumpukan sampah tersebut kerap terlihat di sepanjang pesisir selatan dan hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Meski demikian, Puspa Negara menilai persoalan paling mendasar justru berada pada fasilitas kebersihan di ruang publik.
Ia menyoroti minimnya tongbin di jalur utama destinasi wisata. Bahkan di sejumlah titik strategis yang menjadi pusat aktivitas wisatawan, tempat sampah terpilah hampir tidak ditemukan.
“Kalau kita berjalan di kawasan wisata, jarang sekali menemukan tongbin, apalagi yang sudah dipilah organik dan anorganik. Ini membuat wisatawan kesulitan membuang sampah pada tempatnya,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan tongbin bukan sekadar fasilitas pelengkap, melainkan kebutuhan dasar dalam mendukung tata kelola pariwisata berkelanjutan. Tanpa sarana pembuangan sampah yang memadai, upaya menjaga kebersihan lingkungan akan sulit tercapai meskipun kampanye kesadaran terus dilakukan.
Karena itu, DPRD Badung mendorong Pemerintah Kabupaten Badung agar lebih serius mengalokasikan anggaran dalam APBD 2026 untuk pengadaan dan penempatan tongbin di kawasan pariwisata.
Penempatan fasilitas tersebut, kata dia, harus dilakukan secara terencana di titik-titik strategis, mulai dari kawasan pantai, trotoar, jalan protokol hingga pusat keramaian wisata.
Puspa Negara berharap kawasan Kuta, Legian, Seminyak, dan destinasi lainnya dapat segera dilengkapi tongbin terpilah minimal organik dan anorganik sehingga pengelolaan sampah dapat dimulai dari sumbernya.
Lebih jauh, ia menekankan penyediaan fasilitas harus dibarengi sistem pengangkutan rutin serta edukasi kepada masyarakat dan pelaku pariwisata. Penanganan sampah, menurutnya, tidak boleh lagi bersifat reaktif, melainkan terintegrasi dari hulu hingga tempat pengolahan akhir.
“Kalau fasilitasnya ada, sistemnya berjalan, dan kesadaran juga dibangun, maka persoalan sampah di kawasan wisata bisa ditekan. Ini penting untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus citra pariwisata Badung ke depan,” pungkasnya. BWN-05

































