Denpasar, Baliwakenews.com
Kinerja sektor ritel di Bali pada awal 2026 menunjukkan tren positif di tengah kombinasi faktor pendorong daya beli masyarakat. Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM), kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), serta momentum tahun ajaran baru menjadi katalis utama peningkatan konsumsi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, Rabu 18 Februari 2026 memaparkan data Survei Penjualan Eceran yang dirilis Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 mencapai 124,2 atau tumbuh 6,5 persen secara tahunan (yoy). Secara bulanan, kinerja ritel juga meningkat 0,9 persen (mtm) dan tetap berada di zona optimis.
“Penurunan harga BBM jenis Pertamax dari Rp12.750 menjadi Rp12.350 per liter sejak 1 Januari 2026 dinilai memberi ruang tambahan bagi konsumsi rumah tangga. Di saat yang sama, kenaikan UMK sebesar 7 persen turut memperkuat daya beli masyarakat di seluruh wilayah Bali,” ungkapnya.
Pelaku usaha ritel pun merasakan dampak langsung. Permintaan produk farmasi dan vitamin meningkat seiring perubahan cuaca, yang ikut mendorong kenaikan harga di sektor tersebut. Selain itu, penjualan perlengkapan sekolah juga mengalami lonjakan menjelang tahun ajaran baru.
Secara sektoral, pertumbuhan tertinggi terjadi pada kategori barang lainnya—meliputi farmasi, kosmetik, elpiji, dan bahan kimia rumah tangga—yang naik 3,2 persen (mtm). Disusul bahan bakar kendaraan bermotor (3,2 persen), sandang (2,6 persen), peralatan informasi dan komunikasi (2,3 persen), barang budaya dan rekreasi (2,3 persen), serta makanan, minuman, dan tembakau (1,4 persen).
Optimisme pelaku usaha juga tercermin dari kinerja Lapangan Usaha (LU) perdagangan yang tumbuh 1,44 persen (yoy) pada Desember 2025, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,95 persen (yoy). Hal ini mengindikasikan konsumsi masyarakat Bali masih terjaga.
Meski demikian, pelaku usaha memproyeksikan adanya perlambatan jangka pendek. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Maret 2026 tercatat sebesar 126, menurun dari Februari yang mencapai 164. Namun dalam jangka menengah, optimisme kembali menguat dengan IEP Juni 2026 sebesar 184, tetap berada di level optimis.
“Di tengah dinamika global, BI tetap mempertahankan suku bunga kebijakan pada Januari 2026 guna menjaga stabilitas ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali mengintensifkan operasi pasar murah menjelang hari besar seperti Imlek, Ramadan, dan Nyepi.
Sinergi kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, melindungi daya beli masyarakat, serta memastikan pertumbuhan ekonomi Bali tetap berkelanjutan di sepanjang 2026. BWN-03


































