Mangupura, baliwakenews.com
Di tengah gegap gempita perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, GWK Cultural Park memilih cara unik untuk memaknai kemerdekaan, yakni menanam pohon. Usai upacara bendera yang berlangsung khidmat di bawah bayangan Patung Garuda Wisnu Kencana, manajemen GWK bersama siswa dan karyawan berbondong-bondong menuju area parkir. Di tangan mereka, puluhan bibit pohon siap ditanam di tanah yang telah dipersiapkan.
Seolah menyambung doa dari lagu kebangsaan, setiap gumpalan tanah yang ditimbun di sekitar akar bibit menjadi simbol warisan baru bagi generasi mendatang. Jika kemerdekaan adalah anugerah yang diwariskan para pahlawan, maka pepohonan ini adalah hadiah hidup yang akan diwariskan bagi anak cucu.
“Penanaman pohon ini sejalan dengan filosofi Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam. Kami ingin mengingatkan bahwa menjaga kemerdekaan juga berarti menjaga bumi tempat kita berpijak,” ujar Ch. Rossie Andriani, Direktur Operasional GWK Cultural Park.
Di balik acara seremonial, kegiatan penghijauan ini memberi pesan kuat, yakni kemerdekaan tak hanya dirayakan dengan bendera, tetapi juga dengan aksi nyata menjaga lingkungan. Pohon yang tumbuh kelak akan menjadi peneduh, penghasil udara bersih, sekaligus penanda bahwa bangsa ini terus hidup dan berakar.
Parade budaya oleh ratusan siswa sekolah dasar memang menghadirkan keceriaan dengan warna-warni busana Nusantara. Namun di antara keriuhan itu, penanaman pohon memberi napas berbeda: tenang, sederhana, tapi bermakna dalam.
Bagi GWK, kemerdekaan Indonesia ke-80 tahun bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia adalah momentum untuk memastikan masa depan tetap hijau, lestari, dan penuh kehidupan. BWN-04
































