Jakarta, baliwakenews.com – Populasi serangga seperti capung dan kunang-kunang dilaporkan terus menyusut di berbagai wilayah Indonesia. Para ahli lingkungan menyebut fenomena ini sebagai sinyal kuat kerusakan ekosistem akibat polusi, urbanisasi, dan penggunaan pestisida secara masif.
Salah seorang peneliti serangga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan capung dan kunang-kunang merupakan bioindikator alami yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. “Jika mereka menghilang, itu menandakan kualitas air dan udara yang memburuk, serta hilangnya habitat alami mereka,” ujarnya.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada pada 2024 mencatat penurunan populasi capung hingga 60 persen di kawasan pertanian intensif di Jawa Tengah dalam lima tahun terakhir. Hal serupa juga ditemukan pada kunang-kunang yang populasinya menurun drastis di daerah pinggiran kota.
Penyebab utama dari penurunan ini adalah pencemaran air, penggunaan pestisida di lahan pertanian, serta konversi lahan basah menjadi permukiman. “Capung sangat tergantung pada air bersih untuk berkembang biak. Sedangkan kunang-kunang memerlukan area gelap dan lembap untuk hidup, yang kini hampir tidak ada di wilayah urban,” jelas salah seorang peneliti.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengaku sedang memantau situasi ini. “Serangga kecil seringkali diabaikan, padahal perannya sangat besar dalam menjaga keseimbangan alam,” katanya.
Pemerhati lingkungan meminta pemerintah lebih serius dalam mengawasi penggunaan pestisida serta menjaga kawasan hijau di tengah pertumbuhan kota yang pesat. BWN-01





























