Badung, baliwakenews.com
Usaha budidaya lebah madu merupakan usaha yang sangat menguntungkan, menurut Dosen Pertanian Universitas Maha Saraswati Denpasar, Dr. Ir. Ketut Arnawa, MP., dari Program Kemitraan Wilayah (PKW) yang dilaksanakan di desa Ayunan, Mengwi, Badung membuktikan Teknologi budidaya dengan menggunakan stup dapat meningkatkan produksi lebah madu. Ditemui Senin (2/11) di Denpasar, Arnawa mengatakan teknologi ini dapat meningkatkan pendapatan petani setiap bulannya mencapai hampir Rp1,5 juta.
Arnawa menerangkan Desa Ayunan merupakan daerah pengembangan pertanian, ekonomi kreatif dan pengembangan desa wisata. Budidaya lebah madu merupakan peluang bisnis yang sangat menguntungkan bagi masyarakat, namun usaha ini belum dilakukan secara optimal, sehingga perlu usaha ini dikelola dengan baik. Masyarakat melakukan usaha budidaya lebah madu masih secara sederhana dan masing-masing anggota kelompok memiliki dua sampai tiga sarang madu yang masih sangat sederhana.
“Sarang lebah madu biasanya dibuat dengan sisa batang pohon dibuat bulat lebih kurang panjangnya 50 cm dengan diameter 20 cm, didalamnya ada lubang sebagai sarang, kemudian dikedua ujung lubang akan ditutup dengan tempurung kelapa/atau bahan lain diisi lubang kecil sebagai tempat keluar masuknya lebah pekerja,” terangnya.
Petani lebah madu biasanya melakukan panen setiap 20 sampai 25 hari dengan cara mengambil sarang lebah (tale) yang sudah ada madunya dengan cara memeras sarang tersebut, sehingga sarang tersebut rusak dan tidak dapat dikembalikan lagi ke dalam kungkungan. Demikian pula ketika petani mengambil sarang (tale) yang berisi larva lebah untuk digunakan sebagai bahan kuliner khas Bali yaitu sebagai sayur (lawar ) otomatis tale sebagi tempat madu akan berkurang dan produksi madu akan menurun, sehingga usaha lebah madu ini tidak akan dapat berkembang dengan baik. Petani juga tidak menyediakan pakan lebah madu dan hanya tergantung dari kondisi alam disekitarnya, misalnya hanya tergantung dari bunga kelapa, durian, enau, kopi dan bunga tanaman hutan di sekitar Desa Ayunan.
“Upaya penanaman tanaman bunga di bawah tegakan pohon hutan desa dapat menjadi solusi bagi ketersediaan pakan lebah. Salah satu alternatif komposisi jenis yang dapat digunakan di Desa Ayunan adalah penanaman durian dan manggis, hal ini mempunyai dampak ganda, yaitu sebagai sumber pakan lebah madu, juga dapat berfungsi sebagai hutan desa, penghasil buah-buahan lokal sebagai pendukung rencana pengembangan Desa Ayunan sebagai desa wisata,” ucapnya. Dapat juga ditanam berbagai jenis bunga-bungan seperti putri pengantin, bunga matahari.
Selain masalah pakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi lebah madu di Desa Ayunan adalah dengan pembuatan sarang berbentuk kotak yang selanjutnya di sebut Stup. Stup dibuat dari lembar-lembaran papan yang berukuran 40 cm x 30 cm dengan tinggi 25 cm. Didalam kotak diberi sekat-sekat (sisiran) persegi empat tempat menempelnya sarang lebah madu. Sebagai contoh untuk pengembangan lebah madu di Desa Ayunan telah dibuat 10 stup sebagai demplot.
“Petani lebah madu di Desa Ayunan, belum terbiasa mengembalakan lebah madunya, tetapi mendiamkan sarang terus di tempatnya, yaitu biasanya di emperan rumah atau di dahan pohon di lahan tegalan. Padahal petani lebah madu yang sudah professional, biasanya dii bulan Mei hingga September para peternak lebah madu menggembalakan lebah madunya ke perkebunan yang ada pakan untuk lebah madu,” ungkapnya.
Para peternak di pulau Jawa biasanya menggembalakan lebah madunya ke perkebunan rambutan, jeruk, mangga, lengkeng, kopi, kapuk, dan perkebunan lainnya. Tujuannya adalah untuk menghasilkan madu yang sesuai dengan jenis bunga yang ada di perkebunan tersebut. Sari dari berbagai jenis bunga tersebut akan menghasilkan madu yang yang mengandung bee pollen dan royal jelly. Sedangkan setelah bulan September, biasanya peternak lebah madu di Jawa akan menggembalakan lebah madu ke perkebunan Jagung. Dari sari Jagung tersebut lebah akan menghasilkan madu dengan bee polen jagung dan royal jelly. Biasanya proses panen madu dilakukan 1- 2 minggu setelah musim bunga, bisa mengetahui madu yang siap panen dengan cara melihat lapisan lilin tipis pada bagian sisiran.
“Berdasarkan hasil kegiatan budidaya lebah di Desa Ayunan setelah menggunakan stup panen madu dapat dilakukan setiap 15 hari, produksi madu meningkat, yaitu dari empat stup diperoleh satu botol,” papar Arnawa.
Harga satu botol madu adalah Rp 300 ribu, ini berarti produksi madu setiap stup setiap 15 harinya Rp 75 ribu, dan Rp 150 ribu/bulan, sehinga per tahunnya Rp 1.800.000 dan biaya pembuatan stup hanya Rp400 ribu, sedangkan umur ekonomis stup diperkirakan 10 tahun, sehingga biaya susut stup pertahunnya Rp40 ribu. Sehingga keuntungan yang diterima petani setiap tahunnya adalah Rp 1.760.000 jika masing-masing petani memiliki 10 stup, maka keuntungan yang diterima setiap tahun adalah Rp 17,6 juta atau setiap bulannya hampir Rp 1.5 juta.*BWN-03
































