Denpasar, biwakenews.com
Sekelompok orang berpakaian adat madya menyegel Kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali di Jalan Ratna, Tonja, Denpasar Utara, Jumat (8/4) siang. Pendemo yang mengatasnamakan Taksu Bali itu menggelar orasi menolak sampradaya.
Demo yang dilalukan puluhan orang itu juga diisi dengan orasi dan menampilkan pertunjukan Calonarang, dengan maksud meminta PHDI Bali berbenah melihat suatu kebenaran tentang Ajeg Bali. Sehingga pengurusnya dapat merombak sistem dan tidak mengakui sampradaya. Demo itu diwarnai dengan aksi penyegelan terhadap pagar Kantor PHDI Bali menggunakan tali kuning yang mirip police line (garis polisi).
Menghindari tindakan anarkis dari para pendemo, Polresta Denpasar menyiagakan sejumlah personil. Kabag Ops Polresta Denpasar Kompol I Made Uder mengatakan, peserta demo tersebut mengaku dari kelompok Taksu Bali. “Iya itu dari Taksu Bali yang mungkin kontra dengan sampradaya,” tuturnya.
Menurut Made Uder, pihaknya menerjunkan sekitar 48 personil yang dibantu anggota Polsek Denpasar Utara dan Polda Bali. Apakah tali kuning yang dipakai menyegel pagar kantor PHDI oleh pendemo adalah garis polisi ? “Itu bukan police line, hanya tali kuning yang mirip saja, sudah kami cek tidak ada tulisan polisinya,” tandas Perwira Melati Satu di pundak tersebut.
Belum diketahui dari mana para pendemo mendapat tali itu. Namun Made Uder menduga itu tali proyek yang biasa digunakan untuk membatasi bangunan. “Pada prinsipnya semua pihak saling menghargai, kami harap jika ada kekurangan agar situasi Kamtibmas tidak bergejolak dan tetap kondusif, apalagi nanti Bali menggelar event internasional,” pungkasnya. BWN-01

































