Mangupura, baliwakenews.com
Tim Program Kemitraan Masyarakat Universitas Warmadewa ( PKM Unwar) membantu kelompok warga di Desa Petang, Badung, dalam meningkatkan nilai tambah untuk olahan jamu. Ketua Tim PKM Unwar, I Ketut Selamet, SE., M.Si., bersama anggota TIM PKM Unwar, menyampaikan bahwa kegiatan yang dikelola oleh warga Desa Petang yang dibentuk dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Swadaya Putri mengolah tanaman rempang menjadi produk jamu.
Dengan mengangkat tema “Pendampingan Usaha Produk Jamu Berbahan Tanaman Rempang, Sebagai Upaya Peningkatanan Nilai Tambah Hasil Pertanian di Desa Petang Kec. Petang Kab. Badung” Ketua Tim PKM bersama anggota Ni Putu Pertamawati, SE., MM., dari FEB Unwar dan Ir. I Made Suarta, MP., dari FP Unwar berupaya membantu KWT Swadaya Putri dalam meningkatkan nilai tambah produk jamu.
Lebih lanjut Ketua Tim PKM, I Ketut Selamet, SE., M.Si., yang merupakan dosen dari FEB Unwar memaparkan jamu yang dihasilkan oleh kelompok ini dipasarkan di daerah Petang dan luar Petang dalam bentuk serbuk. “Bahan-bahan dasar jamu olahan diperoleh dari tanaman rempang jenis Jahe merah, Kunyit Putih, dan temu yang ada di kebun anggota kelompok dan warga sekitar, sehingga mampu memberikan peluang pekerjaan dan nilai tambah bagi warga sekitar, ” ucapnya.
Program PKM yang dilakukan kelompok Unwar ini memberikan edukasi dan pelatihan dalam memperluas pemasaran produk, strategi pengemasan produk agar menarik, serta membantu untuk memfasilitasi dalam memperoleh ijin BPOM untuk produk hasil olahan kelompok. Selanjutnya ketua tim menyampaikan dengan dilakukan pendampingan secara kontinyu dari berbagai pihak pada KWT Swadaya Putri yang telah berjalan 15 tahun (sejak dirintis tahun 2006), diharapkan dapat dijadikan contoh oleh warga masyarakat lainnya untuk mengembangkan kelompok – kelompok usaha lainnya sehingga terbangun penguatan ekonomi kerakyatan di sekitar desa setempat.
Ka. LPM Unwar, Dr. I Wayan Wesna Astara, SH., MH., M.Hum., menyampaikan bahwa usaha produk lokal warga desa Petang yang menjadi PKM Unwar ini merupakan salah satu bentuk UMKM yang dijadikan sebagai peluang pekerjaan untuk warga sekitar khusunya untuk ibu-ibu rumah tangga.
“Produk olahan Jamu pada saat kondisi pandemi akan banyak diminati oleh masyarakat sebagai obat tradisional dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Dengan kondisi ini, pemesanan dan konsumsi jamu olahan warga akan semakin meningkat, ” ungkapnya.
Bahan dasar yang digunakan serta proses pengolahan yang menggunakan alat-alat rumah tangga menjadikan bisnis ini mudah untuk dilaksanakan oleh warga. Selain itu, pengolahan dari bahan dasar menjadi produk jadipun tidak menimbulkan limbah karena hasil limbah ampas jamu tersebut dijadikan sebagai sarana upakara yang memiliki nilai jual. “Tim PKM Unwar nantinya agar membantu dalam memfasilitasi ijin BPOM produk jamu ini sehingga pemasarannya bisa diperluas dan mampu meyakinkan konsumen untuk kualitas produk ini, ” tandasnya.
Dalam Monev PKM tersebut, warga juga mempraktekan pengolahan jamu dari bahan dasar Jahe Merah menjadi serbuk jamu yang siap di jual.*BWN-03

































