Denpasar, Baliwakenews.com
Suasana hangat menyelimuti Panti Asuhan Tat Twam Asi, Rabu 25 Februari 2026. Tawa anak-anak berpadu dengan obrolan penuh keakraban, menghadirkan energi berbeda dari biasanya. Hari itu bukan sekadar kunjungan melainkan pertemuan yang membawa harapan.
Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-44 LLDikti Wilayah VIII resmi ditutup di tempat ini. Bukan dengan seremoni mewah, tetapi melalui langkah sederhana: berbagi dan hadir di tengah mereka yang membutuhkan.
Tema tahun ini, “Menguatkan Mutu, Memperluas Akses, Mewujudkan Pendidikan Tinggi Berdampak,” terasa menemukan maknanya secara nyata. Pendidikan tidak lagi berhenti pada ruang kelas atau angka statistik, tetapi menyentuh langsung kehidupan.
Rombongan panitia yang dipimpin Rektor Universitas Warmadewa, Prof. I Gde Suranaya Pandit, datang dengan semangat kebersamaan. Mereka disambut hangat oleh pengurus yayasan, termasuk Ni Ketut Budiani, serta puluhan anak asuh yang menyambut dengan senyum tulus.
Di tengah interaksi yang cair, Prof. Suranaya Pandit menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar agenda penutup.
“Ini bukan seremoni. Kami hadir dengan niat tulus untuk berbagi dan memberi semangat,” ujarnya.
Lebih dari itu, filosofi Tat Twam Asi aku adalah kamu dan kamu adalah aku menjadi jembatan emosional yang menghapus sekat antara dunia kampus dan kehidupan anak-anak panti.
Di mata Tuhan, semua setara. Pesan itu mengalir dalam setiap percakapan, dalam setiap senyum yang terukir.
Bagi anak-anak di panti, kunjungan ini bukan hanya tentang bantuan, tetapi tentang kemungkinan. Tentang mimpi yang terasa lebih dekat.
Pendidikan, seperti yang disampaikan Prof Pandit, adalah jalan untuk mengubah masa depan. Karena itu, ia membuka pintu lebar bagi anak-anak panti yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Kami siap menerima mereka. Banyak beasiswa yang bisa dimanfaatkan,” katanya.
Harapan itu disambut penuh rasa syukur oleh pihak yayasan. Ni Ketut Budiani menyampaikan bahwa perhatian seperti ini menjadi energi baru bagi anak-anak yang sedang berjuang.
“Kunjungan ini memberi semangat besar bagi mereka,” ungkapnya.
Sejak berdiri pada 1987, yayasan ini telah menjadi rumah bagi ratusan anak. Sebanyak 325 anak berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMA, bahkan 33 di antaranya menembus perguruan tinggi. Angka yang tidak hanya mencerminkan keberhasilan, tetapi juga ketekunan dan harapan yang terus dirawat.
Namun perjalanan belum selesai. Masih banyak mimpi yang menunggu kesempatan.
Permohonan sederhana pun disampaikan agar lebih banyak anak asuh dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, termasuk di Universitas Warmadewa.
Momen di panti asuhan ini menjadi penutup yang berbeda. Di tengah rangkaian acara formal yang telah berlangsung sebelumnya, justru di sinilah makna peringatan terasa paling utuh.
Bahwa pendidikan tinggi yang berdampak bukan hanya tentang gedung megah atau kurikulum modern, tetapi tentang sejauh mana ia mampu menjangkau, menguatkan, dan memberi harapan.
Dan di sudut sederhana sebuah panti asuhan, nilai itu hidup dalam tawa anak-anak, dalam uluran tangan, dan dalam keyakinan bahwa masa depan bisa diubah, bersama. BWN-03





























