Mojokerto, baliwakenews.com
Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hidup Budha terakhir di Nusantara pada abad ke-13 dan ke-16. Dalam sejarah, Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar, yang wilayahnya mencakup hampir seluruh Nusantara. Para Arkeolog yang mulai menggali sejarah dari peninggalan Kerajaan Majapahit di Situs Trowulan. Banyak peninggalan bersejarah yang ditemukan di Situs Trowulan, yaitu bekas pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit yang terletak di daerah Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Bangunan bersejarah yang ditemukan di Situs Trowulan meliputi istana kerajaan, candi, makam, gapura, kolam, dan rumah-rumah penduduk. Seperti Candi Tikus yang sangat terkenal, Candi Menak Jingga, Candi Gentong dan sebagainya. Namun belum banyak yang mengetahui dikawasan tersebut juga ada pura peninggalan Kerajaan Majapahit yaitu berupa Pura Khayangan Tiga yang terdiri dari Pura Dalem, Pura Puseh dan Pura Desa. Ketiga Pura tersebut diempon tidak saja oleh masyarakat Hindu di Mojokerto saja, namun masyarakat Hindu se Nusantara.
Memasuki kawasan pura di Pusat Pemerintahan Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur tersebut tim baliwakenews disambut oleh Jero Ireng, pengayah di Pura Pusat Pemerintahan Kerajaan Majapahit. Jero Ireng mempersilahkan kami melakukan persembahyangan terlebih dahulu, sebelum memberikan penjelasan terkait keberadaan Pura dan peninggalan bersejarah yang ada disana.
Usai melakukan persembahyangan, Jero Ireng menceritakan, di Pura Dalem Pusat Pemerintahan Kerajaan Majapahit ada pelinggih Siwa Parwati, dan pelinggih Ida Ratu Mas Magelung. Disisi lain ada gedong leluhur sabda palon yaitu Semar. Lebih lanjut Jero Ireng memaparkan di Pura Puseh ada Candi Siwa Budha dan juga pratima yang memang peninggalan jaman Majapahit. Di Pura ini tampak perpaduan kuat antara ajaran Hindu dan Buddha. Jero Ireng Pengayah di Pura Pusat Pemerintahan Kerajaan Majapahit
Lebih lanjut dikatakan di Pusat Pemerintahan Kerajaan Majapahit dengan luas 1,5 hektar tersebut selain ditemukan senjata dan arca yang sebagian sudah mulai rusak, dikawasan tersebut juga ada lingga yoni, yang merupakan simbul dari pemujaan siwa. Kawasan Pura Pusat Pemerintah Majapahit tersebut diyakini sebagai tempat untuk sowan ke leluhur. Wanita asal Kabupaten Buleleng tersebut menuturkan, saat ini Pusat Pemerintah Kerajaan Majapahit dikelola oleh Yayasan Puri Surya Majapahit.
Diakui saat ini pura mulai banyak diketahui masyarakat yang datang dengan berbagai tujuan terutama memohon kesembuhan. Meski demikian Jero Ireng selalu menjelaskan pada mereka, bahwa Pura Pusat Memerintah Majapahit tersebut adalah tempat berdoa dan memohon, bukan tempat berobat. Namun dengan keyakinan kebanyakan masyarakat yang datang bersembahyang dan memohon, tidak sedikit yang keinginannya terkabul terutama yang memohon kesembuhan. Wanita yang ngayah sejak 2003 mengatakannya Kebanyakan keluhan mereka adalah sakit karena santet. Ia juga menjelaskan untuk pujawali Pura tersebut di bagi tiga yakni Pura Dalem Piodalannya di Purnama Kedasa, Pura Puseh Piodalannya di Buda, Wariga Warigadean dan Pura Desa pada Purnama Ketiga
Tim liputan hanya sempat menelusuri Pura Dalem dan Pura Puseh, karena hari sudah berangsur gelap dan suasana magis semakin terasa. Jero Ireng mengatakan, membatasi jam kunjungan dan saat malam hari Pura ditutup untuk umum guna menghindari hal yang tidak diinginkan. BWN-03


































