Mangupura, baliwakenews.com
Anggota DPRD Badung asal Kuta Selatan (Kutsel), I Wayan Loka Astika, menilai tantangan utama pariwisata Bali saat ini bukan pada jumlah kunjungan wisatawan, melainkan pada penataan dan pengelolaan sektor pendukungnya. Menurutnya, jika persoalan klasik seperti kemacetan, sampah, hingga maraknya akomodasi tak berizin dapat ditangani secara konsisten, maka peningkatan kunjungan wisatawan pada 2026 akan terjadi secara alami.
Politisi PDI Perjuangan itu menegaskan, secara umum pariwisata Bali masih bergerak positif. Namun, terjadi pergeseran pola wisatawan yang kini lebih banyak memilih menginap di vila dan rumah kos dibandingkan hotel. Sayangnya, tidak sedikit akomodasi tersebut beroperasi tanpa izin resmi, sehingga berpotensi merugikan pendapatan asli daerah (PAD) Badung.
“Bukan wisatawannya yang berkurang, tapi sistemnya yang perlu dibenahi. Vila dan rumah kos tanpa izin inilah yang harus ditertibkan agar kontribusi ke daerah bisa maksimal,” tegasnya, Kamis (1/1/2026).
Di sisi lain, Loka Astika menilai pemerintah mulai menunjukkan keseriusan dalam menangani persoalan infrastruktur dan lingkungan yang selama ini menjadi keluhan wisatawan. Sejumlah proyek telah berjalan, mulai dari pemasangan traffic light di Simpang Siligita, rencana pembangunan underpass di Simpang Universitas Udayana (Unud), hingga pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di tingkat desa. “Kalau infrastruktur dan lingkungan dibenahi secara bertahap, kenyamanan wisatawan pasti meningkat,” ujarnya.
Tak kalah penting, ia menyoroti kuatnya pengaruh media sosial terhadap citra pariwisata Bali. Loka Astika sepakat dengan Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, bahwa konten bernuansa negatif—terutama unggahan lama yang kembali diviralkan tanpa konteks sangat berdampak pada persepsi publik terhadap Bali.
“Isu negatif jangan terus dibesar-besarkan. Harus diimbangi dengan kampanye positif tentang Bali. Promosi pariwisata bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah, pelaku pariwisata, hingga masyarakat, untuk melakukan introspeksi dan bersama-sama menjaga citra Bali. Menurutnya, pengelolaan isu yang baik dan promosi yang konsisten menjadi kunci keberlanjutan pariwisata, khususnya di Badung.
Sebagai bagian dari upaya jangka panjang, pemerintah juga tengah menggenjot pembangunan infrastruktur strategis seperti rencana jalan lingkar selatan untuk mengurai kemacetan di kawasan Jalan Uluwatu dan sekitarnya. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan wisatawan, tetapi juga memperkuat daya saing pariwisata Bali.
“Kalau pariwisata tertata, wisatawan nyaman, PAD meningkat, dan hasilnya bisa dikembalikan lagi untuk pembangunan,” pungkasnya. BWN-04





























