Jimbaran, baliwakenews.com
Tradisi Siat Yeh dilaksanakan di Desa adat Jimbaran, Jumat (4/3). Pelaksanaan tradisi yang dipusatkan di Lingkungan Banjar Teba, Jimbaran tersebut disaksikan langsung Bupati Badung Nyoman Giri Prasta dan Ketua DPRD Putu Parwata serta undangan lainnya. Koordinator pemuda peserta Siat Yeh I Komang Agus Wiweka mengatakan, tradisi yang sempat terkubur karena pesatnya perkembangan jaman ini berusaha dibangkitkan kembali oleh masyarakat Jimbaran. Prosesi siat yeh diawali dengan mendak atau menjemput tirta air suci ke pantai timur di wilayah Suwung dan pantai barat di Jimbaran. Tradisi mendak tirta menggunakan lima kendi dari masing-masing tempat disesuaikan dengan pengurip-urip yaitu warna kuning dari barat dan putih dari timur.
Tradisi siat yeh yang dilaksanakan di hari Ngembak Geni atau Umanis Nyepi ini mengandung filosofi pembersihan diri untuk menyambut Tahun Baru Saka.Dalam situasi pandemi jumlah peserta Siat Yeh dibatasi hanya 25 orang saja untuk masing masing kelompok. Selain Siat Yeh, Desa Adat Jimbaran juga berusaha membangkitkan kembali tradisi lainnya yang sudah ada sebelumnya yaitu Tradisi Magegobog untuk mengusir energi negatif alam yang berlangsung saat hari Pengerupukan Nyepi.
Hal senada disampaikan Bendesa Adat Jimbaran, I Gusti Made Rai Dirga. Tradisi Siat Yeh ini sudah 5 kali dilaksanakan secara berurut-turut semenjak dikinstruksi kembali. Siat Yeh ini bersumber dari air laut di Pantai Jimbaran dan air di Suwung atau pantai timur. Siat Yeh ini kembali dibangkitkan pada tahun 2018 lalu. Setelah semua persyaratan terpunhi Siat Yeh ini mendapat sertifikat penetapan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Siat Yeh ini berawal dari kehidupan masyarakat Jimbaran yang dulunya mencari mata pencarian di Pantai Barat sebagai nelayan dan sebagaian lagi di Pantai timur atau Suwung dengan membuat garam. Pada saat Ngembak Geni warga ini bercanda dengan saling melempar air dari pantai barat dan pantai Suwung. Tradisi ini oleh generasi muda kembali dibangkitkan dan mulai rutin dilaksanakan sejak tahun 2018 untuk menpererat rasa persaudaraan antar krama. Dia berharap nantinya generasi muda bisa meneruskan tradisi ini secara turun temurun. Selain itu pihaknya berharap apa yang dilakukan para pemuda di Jimbaran ini bisa mendapat perhatian dari pemerintah.
Sementara Bupati Badung Nyoman Giri Prasta mengatakan, Pemerintah Kabupaten Badung sudah berkomitmen dalam visi dan misi melalui Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB) khususnya point keempat yaitu Adat, Agama, Tradisi, Seni dan Budaya. Ini diterapkan dan diaplikasikan semua serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat dengan Kemenkumham dan Dirjen Kebudayaan Pusat tentang Hak Cipta, HAKI, dan WBTB. “Kami di Kabupaten Badung sudah ada 11 WBTB dan kita sudah sertifikatkan, begitu juga dengan warisan benda yaitu Pura, sudah ada kurang lebih 30 pura yang sudah disertifikatkan.
Hari ini adalah rangkain daripada Hari Raya Suci Nyepi, yang pertama kita melaksanakan tawur pengerupukan, lalu perayaan nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian dan sekarang Ngembak Geni. Maka hari ini warga Jimbaran melaksanakan tradisi Siat Yeh dan di Desa Adat Kapal melaksanakan Kebo Dongol dan ini harus kita lakukan dan lestarikan. Saya pastikan desa adat yang ada di Kabupaten Badung yang memiliki tradisi, kedepannya akan kami berikan uang pembinaan. Kami di Pemerintah Kabupaten Badung akan memberikan bantuan dana minimal sebesar Rp 25 juta dan akan diberikan kepada masing masing bendesa maupun tokoh adat untuk keperluan pembinaan tradisi dan budaya tersebut dan ini wajib untuk dilaksanakan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menyerahkan setifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) kepada Bendesa Adat Kapal dan Bendesa Adat Jimbaran. BWN-04

































