Kuta, baliwakenews.com
Jajaran Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida harus ekstra kerja keras dalam merawat Tukad Mati ini. Pasalnya pelaku oknum warga yang membuang sampah ke sungai masih saja terjadi. Bahkan setiap hari sekitar 3 sampai 4 truk sampah diangkat dari hilir sungai Tukad Mati Kua. Hal itu diungkapkan Kepala Satuan Non Verrikal Tertentu (SNVT) PJSA BWS Bali Penida, Wayan Riasa saat dikonfirmasi, Rabu (12/6/2024).
Riasa mengungkapkan pihaknya setiap hari melakukan pemeliharaan dan pembersihan tukad mati dari sampah yang cukup banyak. Hasilnya rata-rata sampah yang berhasil diamankan mencapai 3-4 truk setiap hari. Diakuinya yang menjadi kendala rata-rata sungai di dalam kota adalah masalah sampah. “Kami di BWS tiap hari membersihkan sampah di hilir sungai tukad mati,” akunya.
Mwnyangkut masalah sedimentasi, BWS Bali Penisa secara berkala melakukan pengerukan alurnya. Hal ini untuk mengirangi sedimentasi dan ke depannya akan bekerjasama dengan pemkad Badung untuk sama-sama dalam pemeliharaan tukad mati tersebut.
“Sedimen transport tukad mati memang cukup tinggi, makanya kami memiliki program secara berkala untuk melalukukan pengerukan Kalau sampah Perhari yang kami dapat kisaran 3-4 truk,” ungkapnya.
Salah satu kendala yang dihadapinya di lapangan yakni berkaitan dengan akses. Salah satunya kondisi di hilir jembatan belakanh Gelael Kuta. Karena alat berat tidak bisa turun terpaksa dilakukan secara manual. “Kendala lain yakni kurangnya akses untuk menurunkan alat berat dalam melakukan pembersihan sedimen tukad mati,” imbuhnya.
Karena dalam melakukan pengerukan sedimen lebih efisien dilaksanakan dengan alat berat
Ke depan dia menyarankan perlu ditertibkan dan ditingkat kesadaran dari masyarakat agar tidak membuang sampah ke alur sungai.
Disinggung wacana menjadikan tukad mati sebagai Objek Wisata, pihaknya mengakui dulu memang ada rencana seperti itu. Hal ini sangat memungkinkan asal tidak mengurangi kapasitas aliran sungai. Namun memang erlu pembiayaan yang cukup tinggi.
“Karena tidak diperkenankan membuat bangunan permanen di dalam alur sungai. Hal ini akan berdampak mengurangi kapasitan aliran sungai yang saat ini sangat terbatas.,” akunya. BWN 04

































